Salah satu peserta aksi, Asti, menyuarakan kekhawatirannya sebagai mahasiswi. "Sebagai perempuan saya merasakan keterbatasan untuk berbicara. Di kasus ini ada relasi kuasa antara dosen dan mahasiswi. Saat kami melapor, kami takut kampus tidak melindungi, malah menjustifikasi kami," ungkapnya.
Ia juga menambahkan, dari cerita teman-teman yang diajar oleh terduga pelaku, sering muncul candaan seksis di kelas. "Kami dengar dugaannya tidak hanya satu korban, tapi ada tiga," ucapnya.
Mahasiswa FISIP menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan dan keadilan bagi korban. (alw)