9.521 Pasien Katastropik Terdata di Banyumas, Enam Rumah Sakit Belum Melapor
Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Banyumas Agus Anggraito (pegang mic).-JUNI R/RADARMAS-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Banyumas memperketat pendataan pasien penyakit katastropik atau penyakit yang membutuhkan biaya pengobatan besar. Hingga pertengahan Oktober 2026, data sementara mencatat sebanyak 9.521 pasien, tetapi jumlah tersebut belum mencerminkan kondisi keseluruhan di lapangan.
Pendataan masih berlangsung karena belum seluruh rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah daerah menyerahkan laporan. Dari total 22 rumah sakit, baru 16 yang menyetorkan data pasien penyakit katastropik kepada Dinkes KB Banyumas.
Kepala Dinkes KB Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito, mengatakan pihaknya terus menindaklanjuti rumah sakit yang belum melaporkan data. Selain meminta laporan segera dilengkapi, dinas juga menyiapkan langkah jemput bola dengan mendatangi rumah sakit secara langsung untuk memastikan seluruh pasien tercatat.
"Itu belum semua rumah sakit menyerahkan. Baru 16 dari 22 rumah sakit yang bekerja sama," ujar Agus.
Menurut Agus, kelengkapan dan ketepatan data menjadi hal penting karena pasien penyakit katastropik membutuhkan penanganan medis dengan biaya besar dan sering kali berlangsung dalam jangka panjang. Penyakit yang masuk kelompok ini antara lain kanker, gagal ginjal, dan penyakit jantung.
Pendataan yang menyeluruh diperlukan agar pemerintah daerah memiliki gambaran lebih akurat mengenai jumlah pasien yang membutuhkan layanan kesehatan. Dengan demikian, program bantuan maupun intervensi pembiayaan kesehatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan menjangkau pasien yang tepat.
Melalui pendataan langsung, Dinkes KB Banyumas berharap tidak ada pasien penyakit katastropik yang terlewat dari pencatatan. Langkah ini sekaligus menjadi upaya memastikan warga yang membutuhkan pengobatan berbiaya tinggi memperoleh perhatian dan akses pelayanan medis yang memadai.
"Kalau kemarin kan kita minta datanya nanti kita datangi satu-satu biar yang ada di sana tercover semuanya yang katastropik itu kan yang membutuhkan biaya besar," pungkasnya. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
