Harga Telur Belum Stabil, Harga Pakan Naik
Alek Solehudin, peternak ayam petelur asal Desa Grenggeng, memberi makan ayam petelur yang dipeliharanya.--
KEBUMEN - Harga telur ayam ras yang belum kunjung stabil membuat peternak di Kabupaten Kebumen memilih menahan ekspansi usaha. Di tengah harga telur yang turun, biaya pakan justru terus meningkat sehingga margin keuntungan semakin tertekan.
Kondisi tersebut dirasakan Alek Solehudin, peternak ayam petelur asal Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kebumen. Memasuki sekitar satu tahun menjalankan usaha, Alek kini baru memelihara sekitar 250 ekor ayam.
Padahal, kandang yang dimilikinya mampu menampung hingga 1.000 ekor ayam. Namun, kondisi harga telur membuatnya belum berani menambah populasi.
“Populasi sekarang sekitar 250 ekor, padahal kapasitas kandang 1.000 ekor. Belum kami tambah karena harga telur sedang turun,” kata Alek, Selasa (18/8).
Menurutnya, tren penurunan harga telur sudah berlangsung sejak Maret 2026. Saat ini, harga telur dari kandang berada di kisaran Rp21.000 per kilogram.
Harga tersebut cukup jauh dibandingkan saat Ramadan lalu. Ketika permintaan meningkat, harga telur di tingkat peternak sempat menyentuh Rp28.000 per kilogram.
Namun setelah Ramadan, harga terus bergerak turun dan hingga kini belum kembali ke level yang dianggap aman bagi peternak.
Persoalan semakin berat karena harga pakan tidak ikut turun. Pakan jadi saat ini berada di kisaran Rp378.000 per sak, atau sekitar Rp7.600 per kilogram.
Alek menyebut kondisi tersebut membuat keuntungan peternak semakin tipis. Bahkan, jika seluruh komponen biaya produksi dan tenaga kerja diperhitungkan, hasil penjualan telur berpotensi tidak memberikan keuntungan.
“Kalau harga telur Rp21.000, sementara pakan naik terus, keuntungannya minim sekali. Kalau dihitung dengan tenaga, bisa jadi malah minus,” ujarnya.
Untuk menjaga usahanya tetap berjalan, Alek memilih melakukan efisiensi biaya pakan. Ia mencampur pakan jadi dengan bekatul dan jagung giling.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan produktivitas ayam.
“Yang kami lakukan sekarang efisiensi pakan, dengan mix pakan jadi, bekatul, dan jagung giling. Tapi produktivitas telur tetap kami jaga,” jelasnya.
Upaya tersebut sejauh ini masih berjalan cukup baik. Produktivitas ayam berada di kisaran 85–90 persen setiap hari.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




