Banner v.2

Krisis Air Ancam Lahan Cabai di Kalijeruk Cilacap

Krisis Air Ancam Lahan Cabai di Kalijeruk Cilacap

Petani cabai Desa Kalijeruk menunjukkan tanaman cabainya yang kering akibat kemarau.-Anto untuk Radarmas-

CILACAP, RADARBANYUMAS.CO.ID - Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir, membuat petani cabai di Desa Kalijeruk, Kecamatan Kawunganten kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk tanaman.

Kondisi ini berdampak pada menurunnya produksi cabai dan meningkatnya biaya perawatan.

Salah seorang petani cabai, Anto, mengatakan air untuk menyiram tanaman harus diambil dari sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari lahan.

"Agar air dapat sampai ke kebun, petani harus menggunakan tiga mesin pompa secara bertahap. Cara tersebut membuat biaya operasional semakin besar," katanya saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).

Selain kekurangan air, tanaman cabai juga rentan diserang hama seperti thrips, ulat, dan penyakit layu.

Menurut Anto, kondisi itu membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal meski pemupukan tetap dilakukan.

"Dampaknya, hasil panen mengalami penurunan. Jika saat musim hujan lahan seluas 2,5 hektare mampu menghasilkan sekitar 5 kuintal cabai rawit merah dalam sekali petik, pada musim kemarau hasilnya hanya sekitar 1 kuintal lebih sedikit," jelasnya. 

BACA JUGA:Harga Cabai Rawit di Cilacap Mulai Turun, Daya Beli Masyarakat Kembali Normal

Di sisi lain, harga cabai di tingkat petani juga turun hingga sekitar Rp 24.000 per kilogram sehingga keuntungan petani semakin berkurang.

Anto memperkirakan kerugian yang dialami selama sekitar tiga bulan terakhir mencapai sekitar Rp 50 juta.

Kerugian tersebut harus ditanggung sendiri oleh para petani.

"Kalau dihitung kerugian bisa mencapai 50 juta dan itu kami yang nanggung," tandasnya. 

Para petani berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama bantuan mesin pompa, sarana irigasi, maupun obat-obatan untuk mengendalikan hama.

"Dengan adanya sarana irigasi dapat membantu menjaga produksi cabai dan meringankan beban petani selama musim kemarau," pungkasnya. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: