Banner v.2

Lanjut Usia Sehat dan Mandiri Tanpa Depresi

Lanjut Usia Sehat dan Mandiri Tanpa Depresi

Lanjut Usia Sehat dan Mandiri Tanpa Depresi--

Oleh: Herry Prasetyo, Handoyo & Hartati

Prodi Keperawatan Purwokerto, Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

RADARBANYUMAS.CO.ID - Proses menua merupakan keniscayaan dan pasti terjadi pada sebagian orang yang diberi karunia umur panjang oleh Allah, tetapi menjadi tua tidak identik dengan menjadi lemah. Dalam falsafah Jawa Banyumasan bagi para lanjut usia agar hidup sehat, mandiri dan bahagia, hidup itu mengalir, “urip iku kudu migunani”, hidup harus tetap memberi arti. Lanjut usia bukan fase redup, melainkan musim panen kebijaksanaan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan lansia tetap sehat, mandiri, dan terhindar dari depresi.

Secara global, World Health Organization menyebut depresi sebagai salah satu gangguan kesehatan mental terbanyak di dunia, termasuk pada kelompok usia lanjut. Di Indonesia, laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan masalah emosional pada lansia cukup signifikan, seringkali berkaitan dengan penyakit kronis, kehilangan pasangan hidup, penurunan fungsi fisik terutama kemandirian dalam beraktifitas harian, serta keterbatasan peran sosial.

Depresi pada lansia sering tersamar. Ia tidak selalu tampil sebagai tangisan atau keluhan sedih. Kadang ia hadir sebagai mudah marah, menarik diri, sulit tidur, cepat lelah, atau merasa tidak lagi berguna. Dalam budaya Jawa, lansia cenderung “nrimo” dan menyimpan perasaan, sehingga gejala depresi kerap dianggap bagian wajar dari penuaan. Padahal, depresi bukan kodrat usia, melainkan kondisi kesehatan yang dapat dicegah dan ditangani.

Secara ilmiah, proses menua membawa perubahan biologis seperti penurunan massa otot, elastisitas pembuluh darah, serta fungsi sensorik. Namun kesehatan lansia tidak hanya ditentukan faktor fisik. Model biopsikososial menjelaskan bahwa kesejahteraan mental dipengaruhi interaksi kondisi tubuh, dukungan sosial, dan makna hidup. Lansia yang merasa dihargai dan tetap berperan dalam keluarga cenderung lebih sehat secara emosional.

Budaya Banyumasan memiliki modal sosial yang kuat untuk mencegah depresi. Tradisi “rembugan”, kerja bakti, pengajian, arisan, hingga pertemuan rutin Posyandu Lansia adalah ruang interaksi yang dapat memperkuat jejaring sosial. Dalam suasana egaliter khas ngapak, lansia tidak diposisikan sebagai beban, melainkan sebagai sesepuh yang didengar pituturnya. Nilai hormat kepada orang tua merupakan benteng protektif terhadap isolasi sosial.

Upaya mewujudkan lansia sehat dan mandiri tanpa depresi dapat dilakukan melalui beberapa strategi sistematis. Pertama, penguatan kesehatan fisik sebagai fondasi. Penggunaan tongkat sebagai alat bantu jalan bisa digunakan untuk mendukung aktifitas harian. Aktivitas fisik teratur seperti senam lansia, jalan pagi keliling kampung, atau berkebun ringan terbukti meningkatkan hormon endorfin yang berperan dalam suasana hati positif. Pola makan seimbang dengan mengutamakan sayur, buah, sumber protein cukup, serta membatasi gula dan garam membantu mengendalikan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes yang sering memperberat depresi. Pemeriksaan rutin tekanan darah, gula darah, dan berat badan di Posyandu Lansia menjadi langkah deteksi dini yang efektif.

Kedua, stimulasi kognitif dan spiritual. Lansia perlu diajak tetap aktif berpikir dan merasa bermakna. Kegiatan membaca, mengaji, berdiskusi, atau bahkan berbagi cerita masa lalu kepada generasi muda merupakan terapi sederhana yang bernilai besar. Dalam konteks Banyumas, cerita perjuangan hidup dan kearifan lokal dapat menjadi jembatan lintas generasi. Ketika pengalaman hidup dihargai, harga diri lansia ikut terjaga. 

Ketiga, dukungan keluarga yang empatik. Keluarga sebagai sistem pendukung lanjut usia dan lingkungan terdekat dan paling berpengaruh. Komunikasi hangat, melibatkan lansia dalam pengambilan keputusan rumah tangga sederhana, serta memberikan ruang untuk tetap mandiri dalam aktivitas sehari hari merupakan bentuk penghargaan yang nyata. Kemandirian tidak selalu berarti melakukan segalanya sendiri, tetapi memiliki kesempatan memilih dan merasa dipercaya.

Keempat, deteksi dini adanya masalah kesehatan mental dan penanganan dini terutama depresi. Tenaga kesehatan dan kader posyandu lansia perlu memahami tanda awal depresi pada lansia, seperti kehilangan minat, perubahan nafsu makan, gangguan tidur, atau keluhan somatik tanpa sebab jelas. Skrining sederhana menggunakan kuesioner dapat diterapkan di layanan primer posyandu lansia dan puskesmas untuk deteksi dini terhadap depresi. Bila ditemukan gejala, rujukan ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut sangat dianjurkan. Pendekatan ini selaras dengan upaya promotif dan preventif dalam sistem pelayanan kesehatan kita.

Dalam praktik keperawatan, kemandirian lansia diukur melalui kemampuan melakukan aktivitas sehari hari seperti berjalan, mandi, berpakaian, dan makan. Menggunakan tongkat bukan berarti kehilangan kemandirian. Justru sebaliknya, tongkat memungkinkan lansia tetap bergerak tanpa harus selalu bergantung pada orang lain. Dalam budaya Jawa Banyumasan yang menjunjung nilai “ora ngrepoti”, tidak merepotkan orang lain, tongkat dapat dimaknai sebagai ikhtiar menjaga harga diri. Lansia tetap bisa pergi ke tempat ibadah baik mushola maupun masjid, menghadiri pengajian, atau sekadar menyapa tetangga di teras rumah tanpa harus dituntun. Ada rasa percaya diri yang tumbuh ketika langkah terasa lebih stabil.

Seringkali hambatan terbesar penggunaan tongkat bukanlah fisik, melainkan psikologis. Sebagian lansia merasa malu atau takut dicap lemah. Padahal, stigma inilah yang perlu diluruskan melalui edukasi keluarga dan masyarakat. Pendekatan komunitas melalui Posyandu Lansia dapat menjadi ruang edukatif. Kader kesehatan dapat menjelaskan bahwa tongkat adalah bagian dari strategi pencegahan jatuh. Keluarga pun perlu memberi dukungan positif, bukan komentar yang melemahkan. Dalam masyarakat Banyumas yang dikenal terbukaan ‘blakasuta”, perubahan persepsi dapat dilakukan melalui keteladanan. Ketika tokoh masyarakat atau sesepuh desa menggunakan tongkat dengan percaya diri, pesan yang tersampaikan adalah bahwa alat bantu adalah bagian dari perawatan diri, bukan simbol ketidakmampuan.

Sehingga, menua tidak harus identik dengan kesepian dan ketergantungan dengan orang lain. Melalui pendekatan ilmiah yang sistematis, edukasi kesehatan yang tepat dan sentuhan budaya Banyumasan yang hangat, lansia dapat menjalani hari tua dengan tubuh yang terawat, pikiran yang jernih, hati yang lapang dan tetap mandiri. Ada pepatah yang perlu direnungkan dan dijadikan motivasi bagi lansia seperti pohon tua yang akarnya menghunjam dalam, ia tetap berdiri teduh, memberi naungan, dan menjadi penanda arah bagi kehidupan di sekitarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: