Dolar Naik, Harga Pupuk dan Pestisida di Banyumas Juga Naik
Dolar Naik, Harga Pupuk dan Pestisida di Banyumas Juga Naik-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-
BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID - Harga pupuk non subsidi dan pestisida di sejumlah toko pertanian Kabupaten Banyumas mengalami lonjakan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut dipicu menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang berdampak pada harga produk pertanian.
Pemilik toko pertanian, Setyaningsih mengatakan, para konsumen mengaku terkejut dengan kenaikan harga pupuk non subsidi dan pestisida. Meski sebelumnya sudah mendengar kabar soal dampak penguatan dolar terhadap harga barang impor, banyak pembeli tetap tidak menyangka kenaikannya cukup tinggi.
"Pembeli kaget terutama untuk kenaikan harga pupuk non subsidi dan vitamin daun," kata Setyaningsih, Kamis (21/5). Menurutnya, kenaikan harga mulai dirasakan hampir di seluruh jenis produk pertanian non subsidi.
Tidak hanya petani yang harus mengeluarkan biaya lebih besar, pemilik toko pertanian juga ikut terbebani karena modal kulakan bertambah. Harga barang dari distributor mengalami penyesuaian seiring naiknya biaya impor bahan baku dan distribusi.
BACA JUGA:Petani Bulaksari Cilacap Produksi Pupuk Organik dari Limbah Ternak Sapi
Di tingkat toko pertanian, harga pupuk non subsidi jenis NPK kemasan 25 kilogram mengalami kenaikan cukup tajam. Sebelumnya pupuk tersebut dijual Rp280 ribu, namun kini naik menjadi Rp320 ribu atau selisih sekitar Rp40 ribu per sak.
Selain pupuk NPK, harga pupuk non subsidi jenis urea kemasan 5 kilogram juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dijual Rp60 ribu, kini harga pupuk tersebut sudah mencapai Rp72 ribu atau naik sekitar Rp12 ribu.
"Harga jual vitamin daun sebelumnya Rp 45 ribu, sekarang menjadi Rp 50 ribu," imbuh Setyaningsih. Produk perawatan tanaman lain seperti insektisida dan herbisida juga ikut mengalami penyesuaian harga.
Untuk insektisida kemasan botol besar, kenaikan harga berkisar antara Rp2 ribu hingga Rp3 ribu tergantung merek. Sedangkan herbisida mengalami kenaikan sekitar Rp3 ribu sampai Rp4 ribu per kemasan.
Meski harga berbagai produk pertanian meningkat, petani dan pekebun disebut tetap membeli pupuk serta pestisida demi menjaga hasil panen. Menurut Setyaningsih, sebagian besar konsumen menganggap kebutuhan perawatan tanaman tidak bisa ditunda.
"Misalnya tanaman singkong dan pohon kelapa, sekarang para pekebun merawat secara optimal dengan pemberian pupuk agar hasil panen meningkat," tandas Setyaningsih. Ia menilai petani tetap berupaya mempertahankan produktivitas meski biaya produksi terus naik. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

