Banner v.2

Harga Cabai Turun, Picu Deflasi Tipis di Purwokerto

Harga Cabai Turun, Picu Deflasi Tipis di Purwokerto

Harga cabai rawit di Purwokerto menjadi salah satu penyumbang deflasi April 2026.-WAFI ZAKIYAH/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Turunnya harga cabai rawit menjadi salah satu faktor utama yang mendorong deflasi di PURWOKERTO pada April 2026. Penurunan harga komoditas ini ikut menahan laju kenaikan harga secara umum di tingkat konsumen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas mencatat secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,07 persen. Meski demikian, secara tahunan inflasi masih tercatat sebesar 2,21 persen.

Kepala BPS Kabupaten Banyumas, Moh. Fatichuddin, M.Si., menjelaskan penurunan harga sejumlah komoditas menjadi penyebab utama deflasi. Salah satu yang paling berpengaruh adalah cabai rawit yang mengalami penurunan harga signifikan.

Selain cabai rawit, komoditas lain yang turut menyumbang deflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, emas perhiasan, serta angkutan antarkota. Penurunan harga pada komoditas tersebut membuat tekanan inflasi bulanan menjadi lebih rendah.

BACA JUGA:Purwokerto Deflasi 0,36 Persen di Awal 2026, Harga Pangan Turun Pascahari Raya, Permintaan Mulai Normal

Indeks Harga Konsumen (IHK) Purwokerto pada April 2026 tercatat sebesar 110,05. Angka ini menunjukkan adanya penyesuaian harga dibandingkan bulan sebelumnya.

“Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi year-to-date (y-to-d) masih berada di angka 1,03 persen. Artinya, tekanan harga secara umum tetap terkendali,” jelasnya.

Penurunan harga cabai rawit dinilai cukup berdampak karena komoditas ini memiliki peran penting dalam konsumsi masyarakat. Fluktuasi harga cabai seringkali menjadi indikator sensitif terhadap kondisi pasar.

Meski sejumlah komoditas mengalami penurunan harga, tidak semuanya bergerak ke arah yang sama. Beberapa komoditas justru mencatat kenaikan harga pada periode yang sama.

BACA JUGA:Cabai Rawit Merah Naik 33 Persen di Purbalingga, Tembus Rp68 Ribu per Kg

BPS mencatat komoditas penyumbang inflasi antara lain minyak goreng, tarif telepon seluler, beras, tempe, dan sigaret kretek mesin. Kenaikan ini menunjukkan dinamika pasokan dan permintaan yang terus berubah.

“Fluktuasi harga ini merupakan hal yang wajar, terutama dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan di pasar,” tambah Fatichuddin.

Dengan kondisi tersebut, BPS Banyumas mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan harga. Terutama menjelang momentum tertentu yang berpotensi meningkatkan permintaan.

Langkah antisipasi diperlukan agar stabilitas harga tetap terjaga. Pemerintah dan pelaku pasar diharapkan dapat menjaga keseimbangan distribusi dan ketersediaan barang. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: