DPRD Banyumas Soroti Soal Sinkronisasi Data dan Realisasi Kawasan Industri
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Banyumas Dukha Ngabdul Wasih-JUNI R/RADARMAS-
PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Komisi IV DPRD Kabupaten Banyumas mendesak percepatan pengentasan pengangguran yang dinilai masih tinggi. Sinkronisasi data dan realisasi kawasan industri disebut sebagai langkah strategis untuk mengatasinya.
Ketua Komisi IV DPRD Banyumas, Dukha Ngabdul Wasih menuturkan, persoalan klasik masih menjadi kendala utama. Salah satunya adalah belum sinkronnya data antarinstansi.
"Terasa lambat, karena data belum sinkron antara Dindukcapil dan Dinsos," kata dia. Kondisi ini dinilai menghambat efektivitas program penanganan pengangguran.
Menurutnya, data memiliki peran vital dalam perumusan kebijakan. Tanpa data yang akurat, intervensi yang dilakukan berisiko tidak tepat sasaran.
BACA JUGA:SPMB SMP Banyumas Dimatangkan, Skema Domisili Berlaku
"Pengentasan pengangguran, sama saja kita mengobati penyakit tepat analisa, tepat sasaran, tepat obat. Selama ini belum seperti itu," ujarnya. Ia menekankan pentingnya validitas data sebagai dasar kebijakan.
Dukha menyebut angka pengangguran di Banyumas masih berada di kisaran 60 ribu orang. Angka tersebut menjadi tantangan serius yang perlu segera ditangani.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah percepatan pembangunan kawasan industri. Menurutnya, sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
"Kawasan industri bisa jadi solusi jitu," ujarnya. Ia optimistis langkah tersebut mampu menekan angka pengangguran secara signifikan.
BACA JUGA:TMMD 127, Kodim 0709/Kebumen Raih Empat Juara
Selain membuka lapangan kerja, kawasan industri juga dinilai memberi efek domino. Mulai dari pertumbuhan UMKM hingga peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
"Dampak positifnya banyak," terangnya. Ia melihat potensi ekonomi daerah bisa terdongkrak melalui pengembangan sektor industri.
Namun demikian, ia juga mengakui tantangan kondisi ekonomi saat ini. Daya beli masyarakat yang menurun menjadi salah satu faktor penghambat investasi.
"Saat ini ekonomi lesu, daya beli masyarakat turun," ujarnya. Kondisi tersebut dinilai mempengaruhi minat investor untuk masuk ke Banyumas.***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
