Produksi 123 Ribu Liter, BPS Dorong Integrasi Petani–Peternak Sapi Perah di Purbalingga
Kepala BPS Kabupaten Purbalingga, Slamet Romelan.-Alwi Safrudin/Radarmas-
PURBALINGGA – Produksi susu sapi di Kabupaten Purbalingga sepanjang 2025 tercatat mencapai 123.458 liter. Namun, angka tersebut dinilai belum mencerminkan potensi maksimal sektor peternakan sapi perah di daerah tersebut.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Purbalingga menunjukkan produksi susu tersebar di 10 dari total 18 kecamatan. Dari jumlah itu, Kecamatan Kutasari menjadi penyumbang terbesar dengan volume produksi mencapai 54.645 liter per tahun.
Kepala BPS Purbalingga, Slamet Romelan, menilai capaian tersebut masih bisa ditingkatkan. Ia menyebut, jika dihitung secara sederhana, produksi di Kutasari setara dengan produktivitas sekitar empat ekor sapi per hari.
“Tertinggi adalah Kecamatan Kutasari dengan produksi mencapai 54.645 liter dalam satu tahun. Jika dihitung per hari, angka ini seolah hanya dihasilkan oleh produktivitas 4 ekor sapi,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
BACA JUGA:Buntut Penonaktifan BPJS PBI, BPS Verifikasi 552 Warga Purbalingga
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi indikator masih terbukanya peluang besar pengembangan usaha sapi perah. Terlebih, karakter geografis Kutasari dinilai mirip dengan kawasan Baturraden yang telah berkembang sebagai sentra susu.
Menurutnya, bisnis peternakan sapi perah tidak hanya bergantung pada penjualan susu. Sektor ini juga memiliki nilai tambah dari penjualan ternak, pemanfaatan biogas, hingga potensi wisata edukasi.
“Peternakan sapi itu menarik, bisa menjual susu, sapi, biogas, dan experience-nya. Jadi punya cabang produk dan lingkungan yang mendukung,” jelasnya.
Meski demikian, Slamet menyoroti persoalan pada rantai pasok pakan ternak. Ketersediaan jagung kebun sebagai pakan masih belum optimal karena sebagian besar hasil panen petani dijual ke luar daerah.
BACA JUGA:BPS: Data Purbalingga Dalam Angka Lebih Banyak Diakses Investor dan Akademisi Luar Daerah
Padahal, kebutuhan pakan dari peternak lokal cukup tinggi. Ketidaksinkronan ini dinilai menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan produksi susu di dalam daerah.
Untuk itu, BPS mendorong adanya integrasi antara petani dan peternak. Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan efisiensi sekaligus meningkatkan produktivitas sektor peternakan.
“Jika petani lokal berintegrasi dengan peternak, tentunya pakan lebih mudah didapat dalam keadaan segar,” pungkasnya. (***)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
