Harga Kedelai Naik, Produksi Perajin Tempe di Cilacap Menurun
Perajin tempe di Desa Bojong membuat tempe siap jual.-JULIUS/RADARMAS-
CILACAP, RADARBANYUMAS.CO.ID - Kenaikan harga kedelai impor mulai berdampak pada pelaku UMKM di tingkat desa. Salah satunya terlihat dari menurunnya produksi perajin tempe di Kabupaten Cilacap.
Waltri, perajin tempe di Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, mengaku harus mengurangi jumlah produksi akibat harga bahan baku yang terus naik.
Ia mengatakan, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak bulan Ramadan.
Dari sebelumnya berkisar Rp 8.900 hingga Rp 9.200 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp 11.000 per kilogram.
BACA JUGA:Jumlah UMKM Cilacap Terus Meningkat dari 5 Tahun Terakhir
"Semua mengeluh. Harga naik terus, sekarang sudah sampai Rp11.000," ujar Waltri, Senin (13/4/2026).
Dampaknya produksi tempe yang biasanya mencapai 75 kilogram per hari kini turun menjadi sekitar 50 kilogram, bahkan terkadang kurang.
Untuk tetap bertahan, Waltri memilih tidak menaikkan harga jual tempe.
Ia khawatir pelanggan akan beralih jika harga dinaikkan. Sebagai gantinya, ia menyiasati dengan mengurangi ukuran tempe yang diproduksi.
BACA JUGA:Perkembangan UMKM di Cilacap Semakin Pesat
"Kalau harga dinaikkan tidak berani, takut pembeli kabur. Jadi disiasati ukurannya yang dikecilkan," jelasnya.
Penurunan produksi ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada pendapatan perajin, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan tempe di pasaran jika kondisi terus berlanjut.
Waltri berharap, pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan.
"Harapannya harga bisa diturunkan. Biar kami rakyat kecil tetap bisa jalan usahanya, tidak semakin kesulitan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
