Banner v.2

Okupansi Hotel di Banyumas Labil, Restoran Stabil

Okupansi Hotel di Banyumas Labil, Restoran Stabil

Deretan Hotel di kawasan wisata Baturraden, Selasa (24/3/2026)-DIMAS PRABOWO/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas mencatat okupansi Hotel selama libur Lebaran paling ramai terjadi pada H+2 dan H+3. Meski demikian, tingkat hunian Hotel secara keseluruhan dinilai belum mencapai kondisi optimal.

Ketua Umum Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI Kabupaten Banyumas, Irianto, mengatakan okupansi hotel rata-rata berada di angka 80 persen. Khusus hotel berbintang di wilayah kota, tingkat hunian bahkan sempat menyentuh 100 persen saat puncak kunjungan.

"Sesuai dengan prediksi kemarin, okupansi 80 persen. Kalau hotel bintang di kota itu bisa 100 persen saat peak H+2 dan H+3 kemarin," kata Irianto.

Memasuki hari berikutnya, tren okupansi hotel mulai mengalami penurunan yang cukup tajam. Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya masa libur dan kembalinya aktivitas kerja.

BACA JUGA:Okupansi Hotel Saat Lebaran Diprediksi 80 Persen, PHRI Banyumas Soroti Ekonomi Lesu dan Dampak Tol

"Hari ini sudah sangat tajam menurun, sudah sepi," paparnya.

Ia menjelaskan banyak pekerja dan karyawan mulai kembali bekerja pada 25 Maret. Hal tersebut membuat arus kunjungan wisatawan yang menginap di hotel ikut menurun.

Di sisi lain, kondisi berbeda justru terjadi pada sektor restoran. Tingkat kunjungan restoran dinilai lebih stabil, terutama untuk segmen restoran keluarga.

"Kalau restoran masih lumayan bagus. Ada yang 100 persen dan ada yang 80 persen, banyak digunakan oleh keluarga untuk acara halal bihalal," ujarnya.

BACA JUGA:Hotel di Purwokerto Digerebek Tiga Mucikari Diciduk, Lima PSK Diamankan, Diduga Libatkan Anak

Irianto mengungkapkan faktor daya beli masyarakat turut memengaruhi lesunya okupansi hotel. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat segmen menengah mengalami penurunan.

"Daya beli kita menurun juga. Saat sekarang mohon maaf yang level menengah menjadi turun, hampir-hampir kelas menengah tidak ada," pungkasnya. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: