Banner v.2

Tawadhu dalam Falsafah Ojo Dumeh di Bulan Ramadhan

Tawadhu dalam Falsafah Ojo Dumeh di Bulan Ramadhan

Dimas Yusuf Afrizal, M.Pd. (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP)--

oleh: Dimas Yusuf Afrizal, M.Pd.

(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP)

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan latihan batin. Latihan untuk merundukkan diri, menata hati, dan membersihkan ego. Dalam tradisi Jawa, kita mengenal sebuah pepeling yang sederhana namun dalam maknanya: ojo dumeh. Jangan mentang-mentang. Jangan merasa lebih.

Falsafah ojo dumeh mengingatkan manusia agar tidak silau oleh apa yang dimilikinya. Jangan mentang-mentang berilmu lalu merendahkan yang belum tahu. Jangan mentang-mentang berkedudukan lalu memandang rendah yang sederhana. Jangan mentang-mentang rajin beribadah lalu merasa paling dekat dengan Allah. Sikap seperti itulah yang dalam ajaran Islam disebut sebagai lawan dari tawadhu’.

Dalam Islam, tawadhu’ bukan sekadar rendah hati di permukaan. Tawadhu’ adalah kesadaran mendalam bahwa manusia hanyalah hamba. Semua yang kita miliki, ilmu, jabatan, harta, bahkan kesempatan beribadah adalah karunia Allah SWT. Tidak ada alasan untuk menyombongkan sesuatu yang sejatinya hanya titipan.

Ramadhan hadir sebagai madrasah untuk menumbuhkan tawadhu’. Ketika berpuasa, kita merasakan lapar dan haus. Kita menyadari bahwa tubuh yang sering kita banggakan ternyata lemah. Kita yang merasa kuat ternyata tak berdaya tanpa seteguk air. Puasa meruntuhkan rasa angkuh yang sering tumbuh tanpa disadari.

Namun ujian terbesar bukan pada rasa lapar, melainkan pada rasa “lebih”. Bisa jadi seseorang rajin tarawih, tekun membaca Al-Qur’an, aktif bersedekah, tetapi tanpa sadar merasa lebih saleh dibandingkan yang lain. Di titik inilah Ramadhan menguji keikhlasan. Ibadah yang seharusnya mendekatkan kepada Allah justru bisa ternodai jika diiringi perasaan dumeh.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”(QS. Al-Isra: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan adalah sikap yang tidak pantas bagi manusia. Setinggi apa pun seseorang merasa, ia tetap makhluk yang terbatas.

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kesombongan sekecil apa pun tidak layak ada dalam hati seorang mukmin. Tawadhu’ justru menjadi tanda kematangan iman. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut ucapannya. Semakin banyak ibadahnya, semakin rendah hatinya. Inilah nilai yang selaras dengan falsafah ojo dumeh dalam budaya Jawa.

Tawadhu’ dalam falsafah ojo dumeh mengajarkan bahwa manusia tetaplah manusia lemah dan penuh kekurangan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, itu pun hanya Allah yang mengetahui ukurannya. Maka selama Ramadhan, marilah kita menjalani ibadah dengan hati yang tenang dan rendah, tanpa merasa lebih suci, lebih benar, atau lebih pantas.

Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi ruang pembelajaran bagi kita untuk merundukkan ego, membersihkan hati, dan menumbuhkan tawadhu’ dalam setiap langkah kehidupan. Sebab pada akhirnya, yang diterima bukanlah siapa yang paling merasa suci, tetapi siapa yang paling tulus sebagai hamba.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: