QRIS di Pasar Bukateja Hanya Jadi Pajangan
Salah satu pedagang di Pasar Bukateja, Tuti menunjukkan Qris milik lapaknya.-Alwi Safrudin/Radarmas-
PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID – Digitalisasi pasar tradisional melalui sistem pembayaran nontunai QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Pasar Bukateja tampaknya belum berjalan mulus.
Meski barcode QRIS sudah terpampang di sejumlah lapak, mayoritas pedagang mengaku lebih nyaman bertransaksi dengan uang tunai atau transfer manual.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan QRIS di pasar ini masih sangat minim. Salah satu pedagang sayur, Agus Azis Setyo, mengungkapkan bahwa kode QRIS yang ada di lapaknya hampir tidak pernah digunakan. Ironisnya, fasilitas tersebut sudah terpasang sejak tahun 2022 lalu, saat ada rencana kedatangan Mantan Presiden Joko Widodo.
"Dulu dipasang karena katanya Pak Jokowi mau datang. Kami kumpulkan data ke Dinperindag, lalu dipasang. Tapi sampai sekarang saya tidak tahu kata sandi atau akses akun rekeningnya," ujar Agus, Rabu (7/1/2026).
BACA JUGA:QRIS Sepi Peminat di Pasar Segamas, Pedagang Pilih Tunai
Kondisi ini membuatnya khawatir uang hasil penjualan tidak masuk ke kantongnya. "Makanya saya tidak pakai QRIS karena tidak tahu uangnya masuk ke mana," imbuhnya.
Selain kendala teknis, faktor usia pedagang dan pembeli yang rata-rata lansia menjadi hambatan utama. Banyak dari mereka yang belum melek teknologi dan jarang menggunakan ponsel pintar.
Senada dengan Agus, Titi, seorang pedagang frozen food, mengaku hingga kini belum memiliki QRIS. Status lapaknya yang merupakan sistem kontrak menjadi salah satu alasan dirinya belum mendapatkan fasilitas tersebut dari dinas terkait.
"Ada pembeli yang tanya QRIS, tapi saya arahkan untuk transfer m-banking saja kalau tidak bawa tunai. Tapi paling banyak ya tetap pakai uang cash," kata Titi.
BACA JUGA:Tiga Pasar Terapkan Retribusi Cashless di Tahun 2026
Sementara itu, Tuti Elina, pedagang jus dan aksesori, menilai penggunaan QRIS kurang efisien untuk transaksi bernilai kecil. Menurutnya, rata-rata pembeli di pasarnya berbelanja dalam nominal yang tidak besar, sehingga pembayaran tunai dirasa lebih praktis dan cepat.
"Jarang sekali pakai (QRIS), seringnya cash. Karena transaksinya kecil-kecil, jadi tidak terasa perlu pakai QRIS. Kecuali mungkin untuk kios sembako yang transaksinya besar-besar, itu baru efektif," jelas Tuti.
Hingga saat ini, uang tunai masih menjadi "raja" di Pasar Bukateja. Para pedagang berharap, jika pemerintah ingin menyeriusi program digitalisasi ini, perlu ada pendampingan lebih lanjut mengenai cara penggunaan aplikasi dan kepastian akses rekening bagi para pedagang agar mereka tidak merasa waswas saat bertransaksi digital. (alw)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

