Banner v.2

Batu Berundak Igir Karem Terkuak, Antara Jejak Sejarah dan Kisah yang Terserak

Batu Berundak Igir Karem Terkuak, Antara Jejak Sejarah dan Kisah yang Terserak

Batuan Iger Karem di Desa Karangjambu, Kecamatan Karangjambu, Purbalingga.-Alwi Safrudin/Radarmas-

Di punggung Karangjambu, pada ketinggian hampir delapan ratus meter di atas laut, hutan pinus menyimpan rahasia yang lama terdiam. Di sanalah batu-batu berundak itu berbaring, senyap, tertutup rumput dan semak, seolah memilih bersembunyi dari ingatan manusia. Waktu berlalu, musim berganti, hingga suatu hari Igir Karem kembali membuka dirinya.

ALWI SAFRUDIN, Purbalingga 

Batuan itu bukan tamu baru bagi warga setempat. Suwono, pegiat alam yang tumbuh bersama hutan pinus Karangjambu, mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia kerap melewati batu-batu itu saat mengikuti ayahnya, Sahidi, menyadap getah pinus.

"Dari kecil saya sudah tahu batu ini ada. Dulu ya biasa saja, sering dilewati, kadang buat pegangan atau tempat nyender kalau capek,' kenangnya.

Kala itu, batu-batu tersebut tak lebih dari bagian lanskap hutan. Hingga suatu ketika, mata Suwono menangkap sesuatu yang tak biasa. Sudut-sudut batu tampak rapi, berbidang, seperti disengaja. "Waktu saya perhatikan kok unik, antik. Tidak seperti batu lain di sekitar sini," tuturnya.

BACA JUGA:Pembuktian Felicia Amadea Raih Prestasi di Ajang Trail Run Nasional

Rasa heran itu mengantarnya pada sebuah pencarian. Bersama Arif Hidayat, ia mulai membersihkan area sekitar. Awalnya sekadar ingin membuat konten, tanpa dugaan bahwa setiap semak yang tersingkap justru membuka batu lain dengan rupa serupa.

"Pas dibersihin kok ada batu lagi yang sama. Kami minta izin Perhutani, lalu dibersihkan semua. Ternyata di kanan kiri masih ada, memanjang," ujar Suwono.

Dari situ, Igir Karem perlahan berbicara. Batu demi batu menampakkan diri, seakan ingin dikenali. Publik pun mulai berdatangan, terutama setelah kisahnya kembali viral pada akhir 2025. Untuk menjaga kawasan, warga membentuk Komunitas Naga Wiwitan, sebuah ikhtiar agar rahasia hutan ini tak rusak oleh gegap gempita.

Namun, hingga kini, tak ada kepastian tentang siapa yang pernah menyentuh batu-batu itu di masa lampau. Apakah ia sekadar karya alam, atau sisa peradaban yang tertinggal di punggung bukit?

BACA JUGA:Menenun Asa dari Limbah Kapas: Jejak Estetika Benang Antih Tumanggal yang Mendunia

"Kami belum tahu ini peninggalan kerajaan atau murni alam. Belum ada penelitian. Untuk sementara kami menyebutnya batuan purba," kata Suwono, memilih bersabar pada waktu.

Di balik sunyi dan batu, keyakinan lokal ikut bernaung. Sahidi, sang juru kunci yang akrab dipanggil Mbah Wono, menyimpan kisah batin tentang penjaga Igir Karem.

"Saya melihat sosok laki-laki tua di sekitar batu, lalu berubah menjadi ular. Saat diminta jangan ada di situ, dia nurut," ujarnya pelan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: