Persatuan Tunanetra Indonesia Apresiasi UMP Adakan Pelatihan Jumantik Inklusif
Persatuan Tunanetra Indonesia Apresiasi UMP Adakan Pelatihan Jumantik Inklusif-HUMAS UMP UNTUK RADARMAS-
RADARBANYUMAS.CO.ID - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) baru saja menyelenggarakan Pelatihan Jumantik Inklusif Pemberdayaan dalam Pengendalian Nyamuk Menuju Banyumas Bebas DBD 2030 pada 20–21 Desember di Gedung F, Ruang Lecture Room F1.04 UMP. Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk mengintegrasikan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dalam pengendalian vektor DBD berbasis komunitas, sejalan dengan fokus pendanaan dan perhatian global lembaga internasional Royal Entomological Society (RES).
Pelatihan diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemuda, kader kesehatan, kader PKK, pengurus masjid, hingga penyandang disabilitas. Keterlibatan lintas elemen tersebut menegaskan bahwa pengendalian nyamuk dan pencegahan DBD tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan pendekatan inklusif yang memberi ruang setara bagi seluruh kelompok sosial, tanpa diskriminasi, untuk berpartisipasi aktif menuju target Banyumas Bebas DBD 2030.
Perwakilan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Banyumas, Ibu Dwi Kurniasih, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini karena membuka akses pengetahuan dan peran nyata bagi penyandang disabilitas dalam isu kesehatan masyarakat.
“Selama dua hari pelatihan kami merasa nyaman, aman, dan dapat memahami seluruh materi yang disampaikan. Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan baru bagi kami,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi UMP sebagai penyelenggara yang secara serius menghadirkan lingkungan pelatihan yang ramah disabilitas, baik dari sisi akses ruang, metode penyampaian materi, maupun sikap panitia dan fasilitator.
Sementara itu, Perwakilan Karang Taruna Desa Karangklesem, Bangun Adiarso, menilai pelatihan Jumantik Inklusif ini memberikan pemahaman yang komprehensif dan aplikatif.
“Pelatihan ini sangat membantu, terutama bagi kami yang sebelumnya belum terlalu memahami pengendalian DBD. Materinya mudah dipahami, narasumbernya kompeten, dan disampaikan sesuai dengan audiens,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian sarang nyamuk (PSN) sangat bergantung pada kolaborasi lintas kelompok, termasuk pemuda dan komunitas rentan, bukan hanya bertumpu pada kader kesehatan semata.
Menuru Ketua Program Juli R Wuliandari PhD., ke depan, UMP merencanakan tindak lanjut berupa pelatihan praktik langsung dan pendampingan lapangan di tiga desa endemik DBD di Kabupaten Banyumas. Program lanjutan ini akan menjadi wahana implementasi nyata prinsip GEDSI dalam pengendalian vektor, sekaligus memperkuat posisi Banyumas sebagai model pengendalian DBD berbasis komunitas yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. (Amr/Chy)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

