Banner v.2

Memoar Lengger Narsih Angkat Ritus Baritan di Panggung Seni

Memoar Lengger Narsih Angkat Ritus Baritan di Panggung Seni

Lengger Narsih, saat melakukan latihan sebelum pementasan, di Sanggar Ngudi Luwesing Salira, Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Banyumas, baru-baru ini.-DOK Sanggar NLS-

PURWOKERTO – Kiprah panjang Narsihati atau akrab disapa Narsih dalam dunia seni tradisi lengger akan dipentaskan dalam pertunjukan tari berjudul Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan. Gelaran ini dijadwalkan berlangsung Selasa (30/9) malam di Hetero Space Purwokerto.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X yang diterima Yayasan Singa Tirta Mas, Kecamatan Patikraja, Banyumas.

Ketua Yayasan Singa Tirta Mas, Suchedi, menuturkan perjalanan Narsih tak bisa dilepaskan dari seni tradisi lengger. Perempuan berusia 60 tahun itu sudah menari sejak usia tujuh tahun dan dikenal memiliki pemahaman mendalam tentang pakem lengger serta kaitannya dengan ritus kesuburan.

“Pertunjukan ini akan mengisahkan pengalaman lengger Narsih sebagai tokoh yang kehadirannya diperlukan dalam upacara ritus kesuburan,” kata Suchedi.

Menurutnya, ritus yang diangkat adalah Baritan. Di masa lalu, Baritan dijalankan masyarakat Banyumas sebagai bentuk tolak bala. Dalam pentas nanti, dituturkan kisah seorang petani muda yang terancam gagal panen lalu meminta bantuan Narsih untuk menggelar Baritan.


Lengger Narsih, saat melakukan latihan sebelum pementasan, di Sanggar Ngudi Luwesing Salira, Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Banyumas, baru-baru ini.-DOK Sanggar NLS-

“Harapan kami, pertunjukan ini bisa menjadi sumber informasi dengan pendekatan kreatif mengenai lengger sebagai bagian dari ritus masyarakat agraris. Semoga bermanfaat sebagai bahan kajian seni tradisi,” tambahnya.

Sutradara pertunjukan, Abdul Aziz Rasjid, menjelaskan tata panggung akan dibuat menyerupai suasana Baritan di masa silam. Panggung dirancang berbentuk gubuk tanpa dinding dengan tiang bambu, dihiasi dedaunan dan buah-buahan seperti pisang raja, janur kuning, kelapa gading, tebu, hingga daun beringin.

“Gambaran ritus Baritan ini dirujuk dari buku Lengger Tradisi & Transformasi karya Sunaryadi. Biyung Narsih juga menjadi salah satu narasumber buku tersebut,” ungkap Aziz.

Selain menampilkan kisah, pertunjukan ini juga menegaskan peran Narsih sebagai penjaga tradisi. Ia aktif mengelola sanggar Ngudi Luwesing Salira untuk melatih anak-anak dan remaja menari lengger klasik, sekaligus mendirikan grup calung dengan keterlibatan besar perempuan di desanya.

“Pertunjukan akan terbagi dalam empat babak sesuai pakem lengger klasik, yaitu klenengan, lenggeran, badhutan, dan baladewan. Narsih akan menjadi penari utama, diiringi calung dengan mayoritas penabuh perempuan, sebagai simbol keterlibatan perempuan dalam kesenian,” pungkas Aziz. (dms)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: