Menjaga Warisan Legit Wajik Kletik dari Lereng Kalibening
Warisan legit dari dapur kalibening, menjaga tradisi lewat wajik kletik, Sabtu 2 Agusutus 2025.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
Ada Filosofi Kebersamaan dari Manisnya Camilan
Di lereng Kalibening yang sejuk, saat aroma kayu bakar menyatu dengan manisnya uap gula aren, tangan-tangan perempuan desa sibuk menyulap beras ketan menjadi kudapan legendaris.
PUJUD ANDRIASTANTO/BANJARNEGARA
Wajik kletik tak sekadar camilan, wajik kletik adalah warisan budaya yang menyimpan kisah kebersamaan dan ketekunan.
Dibentuk menyerupai bunga dan dibungkus pelepah pisang, wajik kletik menyuguhkan lebih dari rasa legit, yang menjadi simbol filosofi sederhana masyarakat Kalibening, keindahan yang lahir dari kesabaran, ketelatenan, dan semangat gotong royong.
“Ini bukan cuma soal makanan. Wajik kletik itu cerita tentang keluarga, tradisi, dan kebersamaan. Kami bikin bareng-bareng, mulai dari memarut kelapa sampai menjaga bara api di tungku,” kata Tuti Haryani, warga Kalibening yang merupakan generasi ketiga pembuat wajik kletik dalam keluarganya.
BACA JUGA:Yang Tua Yang Bertenaga, Gowes Dari Kota Satria Sampai Pulau Dewata
Tuti masih mempertahankan cara lama dalam mengolah bahan. Ia bersikukuh hanya menggunakan gula aren murni dan kelapa lokal, meski ongkos produksinya jadi lebih tinggi.
“Kalau mau hitung-hitungan untung, mungkin saya sudah berhenti. Tapi ini soal rasa dan menjaga warisan,” ujarnya.
Di Desa Sikumpul, seorang perempuan lain juga konsisten menjaga eksistensi kuliner ini. Muratmi memulai usahanya sejak 2012. Berawal dari coba-coba, ia kini mampu memproduksi hingga 500 bungkus wajik kletik per hari.
“Awalnya saya cuma buat untuk suguhan di rumah. Tapi banyak yang suka, jadi saya teruskan sampai sekarang. Sekarang pesanan datang dari Jakarta, Bandung, sampai Lampung. Saya promosikan lewat WhatsApp dan Instagram. Lumayan, banyak pelanggan tetap,” ujarnya.
BACA JUGA:Menyulut Cahaya Harapan, Membakar Dosa Lama
Bagi Muratmi, teknologi digital adalah cara menyelamatkan tradisi. Lewat media sosial, ia mengenalkan wajik kletik ke pasar anak muda yang lebih suka makanan estetik dan otentik.
Pembuatan wajik kletik sendiri bukan perkara sepele. Ketan dikukus setengah matang, lalu dimasak dalam grengseng bersama kelapa parut dan gula aren selama tiga hingga empat jam di atas api kayu. Penggunaan kayu bakar adalah pilihan yang dipertahankan, bukan sekadar karena tradisi, tapi karena memengaruhi kualitas rasa.
“Kalau pakai gas, rasanya beda. Tidak ada aroma khas yang muncul dari tungku kayu. Wajiknya juga jadi kurang tahan lama,” ujar Tuti.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
