Festival Gunung Slamet 2025, Tetap Seru Meski Perang Tomat Diganti Perang Air
Peserta saling lempar dalam kegiatan perang tomat Festival Gunung Slamet di Desa Serang, Minggu (6/7) pagi. Tahun ini tomat yang digunakan untuk perang diganti menjadi plastik yang berisi air.-Aditya/Radarmas-
PURBALINGGA - Riuh semangat tradisi bergema dari lereng Gunung Slamet, Minggu (6/7), saat ratusan warga dan pengunjung merayakan puncak Festival Gunung Slamet ke-8 di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu dalam festival ini, yakni perang tomat. Meski demikian, tahun ini, format perang tomat diganti menjadi perang air.
“Tahun ini, perang tomat kami ganti dengan perang air. Kami balut dalam kegiatan Grebeg Tomat,” ujar Kepala Desa Serang, Sugito, di sela-sela acara.
Air berwarna merah dan jingga, dibungkus dalam plastik bening. Lalu saling dilempar antarpeserta sebagai simbol kegembiraan dan semangat kebersamaan.
BACA JUGA:Pemkab Targetkan Perputaran Uang Festival Gunung Slamet Capai Rp 2,5 Miliar
Tradisi perang tomat sendiri terinspirasi dari legenda terbentuknya Desa Serang yang identik dengan komoditas hortikultura, terutama tomat.
Namun, demi menjaga ketahanan pangan dan nilai kebermanfaatan hasil pertanian, panitia festival kini memilih membagikan tomat segar kepada masyarakat ketimbang melemparkannya.
Meski begitu, nuansa sakral dan syukur tetap menyelimuti perhelatan. Sehari sebelum perang air digelar, Sabtu (5/7), masyarakat mengikuti prosesi inti festival berupa pengambilan air suci dari Tuk Sikopyah, mata air alami di lereng Gunung Slamet.
Sebanyak 140 peserta membawa lodong (wadah bambu tradisional) menyusuri jalan setapak sejauh satu kilometer demi menyimpan air berkah dari alam.
BACA JUGA:Festival Gunung Slamet Kembali Masuk Kalender Even Nasional
“Ini bukan sekadar ritual, tapi wujud penghormatan kami terhadap alam. Air adalah sumber kehidupan, dan Tuk Sikopyah telah memberi banyak berkah bagi masyarakat Desa Serang,” jelas Sugito.
Prosesi ini juga dimaknai sebagai kampanye ekologis. Melalui langkah simbolik itu, warga ingin menyerukan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di sekitar Gunung Slamet, yang selama ini menjadi penyangga sumber air bagi ribuan kepala keluarga.
Tak hanya soal spiritualitas dan konservasi, festival juga menyuguhkan sajian budaya dan kuliner yang meriah. Ribuan warga memadati lokasi saat panitia mencetak rekor dunia melalui penyajian Nasi 3G terbanyak, mencapai 8.888 porsi.
Nasi 3G merupakan makanan khas Serang yang terdiri dari nasi jagung, oseng gandul (pepaya muda), gundil (tempe goreng), dan gereh (ikan asin).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
