RIO DE JANEIRO-Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil akan menjadi saksi siapa yang akan menjadi juara dalam Copa America 2019 kali ini. Brasil yang bertindak sebagai tuan rumah, akan meladeni tim kejutan Peru dalam duel yang akan digelar Senin (8/7) dinihari pukul 02.00 WIB nanti.
Brasil jelas lebih diunggulkan untuk keluar sebagai juara dalam final nanti. Selain karena faktor tuan rumah dengan dukungan puluhan ribu penonton, secara kualitas pemain Brasil lebih diunggulkan dibandingkan calon lawannya.
Brasil adalah kiblat sepak bola Amerika Latin dan dunia. Mereka juga memiliki tradisi juara yang sangat kuat di sejumlah turnamen. Di ajang Copa America, Brasil merupakan tim tersukses ketiga dengan delapan gelar juara. Mereka terakhir kali meraih titel ini pada 2007 silam.
Di turnamen kali ini, Brasil melaju ke partai final dengan rekor yang mengesankan. Tim Samba menjadi tim tersubur dengan 10 gol. Selain itu, pertahanan Brasil adalah yang paling tangguh di antara peserta Copa America tahun ini. Gawang Brasil yang dijaga Alisson Becker hingga detik ini masih perawan alias belum kebobolan satu gol pun.
Brasil bakal menghadapi Peru dalam final Copa America ke-20 mereka, namun itu juga jadi partai pamungkas pertama mereka semenjak terakhir kali pada 2007 di mana mereka menjadi juara dengan menundukkan Argentina 3-0.
Dari rekor pertemuan, Brasil jelas lebih unggul dari Peru. Brasil tercatat meraih 32 kemenangan dari 45 laga. Sementara Peru meraih empat kemenangan dan sembilan laga lainnya berakhir imbang.
Pertemuan Brasil melawan Peru ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi kedua tim di partai final Copa America. Namun kedua tim sudah pernah bertemu pada babak penyisihan Grup A, di mana tim Samba menang telak dengan skor 5-0.
"Lupakan statistik. Ini adalah laga final, yang tentunya laga yang sulit. Kami harus mengejar bola kemanapun pergi selama 90 menit," kata pelatih timnas Brasil Tite di situs Samba Foot.
Di laga final ini, Tite diperkirakan akan memasang formasi andalannya, yaitu 4-2-3-1. Roberto Firmino akan menjadi penyerang tunggal dengan dukungan tiga gelandang serang. Everton Soares, Phillipe Coutinho, dan Richarlison.
Pola ini terbukti efektif saat Brasil mengalahkan Argentina di babak semifinal dengan kemenangan 2-0. Bahkan, saat melumat Peru di babak penyisihan Grup A dengan skor 5-0, Brasil juga menggunakan pola ini.
"Kami adalah tim yang sangat solid, terutama di lini belakang. Dan kami berharap, kami memenangkan turnamen ini. Dan saya sangat siap melakukan itu setelah Liga Champions," kata penyerang Brasil Roberto Firmino yang juga pemain Liverpool.
Bagi Peru, lolos ke final Copa America adalah sejarah luar biasa bagi Negara itu. Peru melaju ke partai finalsetelah menyingkirkan juara bertahan Cile dengan skor 3-0 di partai semifinal. Peru lolos secara mengejutkan melalui gol Edison Flores, Yoshimar Yotun dan Paulo Guererro. Mereka pun berhak melaju ke final setelah terakhir kali terjadi pada 1975 silam. Waktu yang teramat lama.
Peru memiliki rekor yang lumayan bagus di turnamen ini. Dari dua kali melaju ke final pada edisi 1939 dan 1975, mereka sukses meraih gelar juara. Dan, partai final kali ini merupakan yang pertama kalinya bagi Peru sejak kompetisi ini bernama Copa America. Dua gelar Peru sebelumnya diraih ketika kompetisi tersebut masih bernama Campeonato Sudamericano de Football atau kejuaraan sepak bola Amerika Selatan.
Pelatih Peru Ricardo Gareca akan menurunkan pemain terbaiknya. Uniknya, pola yang dipakai Gareca kemungkinan akan sama dengan Brasil, yaitu 4-2-3-1 dengan menempatkan striker gaek Paolo Guerreo.
"Ini (sampai final) adalah hal yang sangat luar biasa bagi kami. Tak ada kata lain, kami harus meraihnya," kata pelatih Peru Ricardo Gareca di Perureport. (wsa/fin)