PERTEMUAN: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Dahlan Iskan usai menggelar zoom meeting, Senin (10/1). (ISTIMEWA)
PURWOKERTO - Pemerintah memprediksi GDP (Gross Domestic Product) Indonesia dapat mencapai 9.980 USD pada satu dekade mendatang.
Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dalam zoom meeting bersama Dahlan Iskan yang dihadiri secara daring oleh media jaringan Disway National Network (DNN), Senin (10/1).
Dalam pemaparannya, pertumbuhan GDP yang sangat optimis itu karena dipicu pertumbuhan ekspor dan produksi hilirisasi besi dan baja yang tumbuh signifikan.
"Indonesia (tahun ini) peringkat 6 dunia untuk ekspor besi dan baja," katanya.
Hilirisasi industri tersebut, lanjut Luhut akan dikembangkan di Kalimantan Utara (Kaltara) yang memiliki luas area 16.400 hektare. Bahkan bisa ditambah hingga 19 ribu hektare pada tahap 1 dan 30 ribu haktare di tahap 2.
Sejumlah produk yang akan dihasilkan dari kawasan industri tersebut antara lain green alumunium, besi, polysilicon, graphite, jenis baterai baru yakni LFP, petrokimia, hingga solar panel.
Luhut menjelaskan, pengembangan green industri Kaltara mulai dibangun pada tahun 2021 dan pada 2023 diharapkan sudah beroperasi.
"Kita akan kerjasama dengan China, Korea dan juga Abu Dhabi," tandas Luhut.
Luhut juga menegaskan, Indonesia kaya akan bahan baku industri besi dan baja. Dari sisi SDM, pihaknya pun akan melakukan talent pool.
Mengumpulkan para lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di sejumlah perusahaan besi dan baja antara 2-5 tahun, kemudian akan diberdayakan di perusahaan tanah air.
Dalam pemaparan, Luhut juga menyampaikan tentang pengempangan rumah sakit di Bali. Penataan rumah sakit yang nyaman bagi pasien dan berwawasan eko green (lingkungan hijau). Targetnya menjadi wisata medis atau rumah sakit wisata.
Rumah sakit ini, lanjut Luhut, diharapkan bakal menjadi rujukan semua orang. Bahkan mampu menandingi rumah sakit di Singapura dan Malaysia. Seperti diketahui, turis medis dua negara tetangga itu, mayoritas adalah dari Indonesia.
"Ada 60 persen turis medis Malaysia dari Indonesia. Dan 40 persen turis medis Singapura dari Indonesia," terangnya.
https://radarbanyumas.co.id/sempat-dibully-program-hilirisasi-industri-luhut-makin-yahud/
Pengembangan wisata medis ini, akan menggandeng Amerika Serikat. Akan ada transfer knowledge dari dokter asing dengan dokter dalam negeri.
"Kita telah berkerjasama dengan RS terkenal di Amerika," tambah salah satu staf Luhut.
Selain di Bali, wisata medis juga potensi dikembangkan di Jakarta dan Medan.
"Nanti tenaga medisnya mengambil dari orang Indonesia yang kini masih mengikuti pendidikan di luar negeri," imbuhnya. (why)
samb: Indonesia Peringkat 6 Dunia Ekspor Besi Baja