Komunitas Sepeda Gunung Totojer Plered terbiasa melintasi jalur ekstrem yang belum pernah dilintasi. Hal tersebut disampaikan Ketua Komunitas Totojer Plered, Haji Wawan. Menurutnya, melintasi jalanan jelek dan dan tidak umum memiliki tantangan tersendiri. ''Kita saat ini lagi seneng-senengnya masuk ke jalur tanah merah. Ada kepuasan tersendiri saat bisa lintasi trek yang susah," katanya kepada Pasundan Eksres, kemarin. Menurutnya, saat melintasi jalan-jalan seperti ini anggota komunitas bisa melihat kondisi daerah yang didatangi dengan perspektif yang berbeda. Pesepeda dapat melihat bagaimana kehidupan masyarakat di sana, kondisi alam yang masih asri, dan terkadang menjalin persaudaraan dengan masyarakat yang tinggal di sana. Walau jalan yang dilewati bukan jalan umum, ia menuturkan para anggota terjaga keamanannya. "Komunitas ini berjumlah 40 orang Kita juga sering naik Gunung Bongkok, Parang dan Gunung Lembu yang ada di Kecamatan Tegalwaru. Kemarin ke Curug Cijalu Subang, anggota komunitas biasanya mengikuti jalur yang sudah ada," ujarnya. Biasnya Start pukul 07.00 pagi setiap hari Jumaat dan Minggu, anggota komunitas akan berangkat menggunakan mobil pick up. Sesampainya di tempat tujuan, sekitar dua hingga tiga jam rombongan menggowes sepeda melintasi track yang sudah ditentukan. Selainitu biasanya ketika beristrahat, para anggota akan bersosialisasi dengan warga sekitar. Selain menambah persaudaraan, kegiatan ini ia katakan bisa menambah pengetahuan. ''Kita sering berangkat hari jum'at dan minggu karena kebanyakan dari kita seorang pedagang,'' tambahnya. Farhan Kapabi (23) salah satu anggota komunitas totojer mengatakan dirinya bergabung dalam komunitas tersebut selain ingin memperbanyak teman juga dapat melintasi jalan yang belum pernah dia lalui. "Saya sengaja ikut komunitas ini, karena seneng kita bisa tau jalan baru. Apalagi disini ajang tukar pikiran karena kebanyakan kita pedagang,'' jelasnya Sementara itu pendiri komunitas sepeda gunung Totojer Plered Dadang Sudirman menuturkan, nama diambil dari bahasa sunda totojer yang artinya mengayuh. Aggota Dewan komisi III Kabupaten Purwakarta ini menjelaskan, pada awalnya totojer hanya untuk sarana olah raga saja. Namun, setelah berkumpulnya orang dari berbagai lapisan masyarakat di beberapa Kecamatan hingga menjadi komunitas dengan jumlah anggota hampir 40 orang. "Sebetulnya tidak ada perbedaan degan komunitas sepeda mountain bike yang lain, hanya saja dalam totojer karena menggunakan istilah bahasa sunda, sehingga kerekatan hubungan silaturahim antar anggota lebih terjalin,'' tutupnya. (yus/ded) YUSLIPAR/PASUNDAN EKSPRES BERSEPEDA. Anggota Komunitas Sepeda Gunung Totojer ketika melintasi salah satu jalur ekstrem di Purwakarta.
Totojer Rambah Trek Ekstrem
Sabtu 20-02-2016,12:26 WIB
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 01-09-2026,19:43 WIB
Jamu Jadi Bekal Keterampilan Siswa SMAN 2 Kroya
Selasa 01-09-2026,16:26 WIB
Siswa MI Ma’arif 3 Gentasari Raih Juara Pildacil dan Siap Berlaga di OMI dan OSKANU
Selasa 01-09-2026,19:47 WIB
Setelah OTT KPK, Pejabat Disdikbud Cilacap Masih Setor Iuran THR
Selasa 01-09-2026,15:24 WIB
Jateng Matangkan Persiapan Menyambut 2.833 Kafilah MTQ Nasional XXXI
Selasa 01-09-2026,16:18 WIB
Dua Siswi SMP Al Azhar 15 Cilacap Ikuti POPDA Jateng 2026
Terkini
Rabu 02-09-2026,12:46 WIB
21 PNS Kemenag Banyumas Daftar Seleksi Petugas Haji, Pendaftar Berasal dari Guru hingga Penyuluh Agama
Rabu 02-09-2026,12:38 WIB
Trans Banyumas Berhenti, Bus Mikro Kembali Ramai, Penumpang Angkutan Konvensional Meningkat
Rabu 02-09-2026,08:53 WIB
Bukan Cuma Dance! Sound Shopee 9.9 x Naykilla & Tenxi Dipakai di Beragam Konten Kreatif
Selasa 01-09-2026,19:47 WIB
Setelah OTT KPK, Pejabat Disdikbud Cilacap Masih Setor Iuran THR
Selasa 01-09-2026,19:43 WIB