DORTMUND – Diego Simeone seperti sudah lupa caranya memperkokoh pertahanan Atletico Madrid. Atletico sudah kemasukan 13 gol dari 13 laga pertama di semua ajang musim ini. Total kemasukan terbesar Los Rojiblancos dalam 13 laga awal musim. Terakhir, anak asuhnya disikat Borussia Dortmund empat gol di Signal Iduna Park, Dortmund, kemarin WIB (25/10).
Sialnya, tiga gol kemasukan terakhir terjadi dalam tempo 16 menit. Raphael Guerreiro di menit ke-73, dan diteruskan Jadon Sancho pada menit ke-83. Enam menit setelahnya, Guerreiro menjebol gawang Jan Oblak untuk kali keempat. Tiga gol itu sudah melengkapi gol Axel Witsel pada menit ke-38.
Malam di Signal Iduna Park itu jadi malam terburuk El Cholo sejak di Ciudad Deportiva Atletico de Madrid tujuh musim silam. Baru kali ini Atleti menelan kekalahan dengan skor 0-4. Selain itu, termasuk Matchday 3 fase grup A Liga Champions kemarin, Atleti gagal clean sheet dalam empat laga beruntun. Terburuk sejak Oktober 2013.
Godin menyebut, taktik counter attack Dortmund jauh lebih bagus ketimbang yang biasa diperagakan dia dan rekan-rekannya. ''Mereka (Dortmund) lebih efektif. Counter attack mereka mampu mematahkan counter attack kami,'' ungkap Godin kepada Marca. Dortmund main lebih rendah penguasaan bolanya, 48 persen.
Taktik counter attack Die Borussen lebih cepat dari Atletico. ''Serangannya lebih efektif. Begitu sukses melakukan serangan balik, di situ mereka mampu membuka peluang gol,'' imbuh kapten Atletico itu. Dortmund menjebol gawang Atleti empat kali hanya dengan empat shots on goal.
Ya taktik der trainer Dortmund Lucien Favre kemarin yang telah mengagetkan Simeone. Tak biasanya Marco Reus dkk memainkan taktik counter attack. Di musim ini penguasaan bola Dortmund rata-rata di atas 53 persen. Sebelum menjebol gawang Atleti tiga kali, Dortmund pun membiarkan Godin dkk lebih sering menguasai bola.
''Terima kasih kepada Dortmund, yang bisa memainkan sepak bola cepat dan menyerang dengan indahnya,'' puji Simeone seperti dikutip Goal. Menurutnya, kunci permainan Dortmund ada dari pemain-pemainnya seperti Reus, Christian Pulisic, Bruun Larssen dan pengganti Jadon Sancho.
Simeone menyebut laga kemarin jadi pelajaran berharga baginya. ''Dinamis dan bermain lebih efisien. Yang terpenting dari mereka, mampu dengan cepat memanfaatkan ball possession yang tidak banyak, dan mereka sukses melakukannya dengan sempurna,'' tutur entrenador yang berusia 48 tahun itu.
Menurut Simeone, kunci kegagalan timnya ada di babak pertama. ''Seharusnya kami saat itu mampu menjadikan laga jadi 1-1 atau bahkan 1-2. Setelah mereka menambah jadi 4-0, tidak akan mudah untuk mengejarnya,'' tambah pelatih yang sudah menjalani 391 laga bersama Atleti itu.
Favre kepada Sports Bild menyebut 15 sampai 20 menit babak kedua jadi momen paling susah bagi timnya. Keberhasilan anak asuhnya memenangi bola-bola balik tidak berlanjut. Saat itu, justru Atleti melalui Saul dan Koke lebih sering memenangi duel di lini tengah. ''Apakah ini akan kami ulangi lagi? (pada matchday 4 di Wanda Metropolitano, 7/11), belum tentu. Tapi dari sini kami sudah meraba karakter permainan Atletico,'' beber pelatih yang baru musim ini berada di Dortmund Brackel itu. (ren)