Komite SMA Negeri 1 Pejagoan Minta RF Dimutasi

Sabtu 28-07-2018,10:00 WIB

RAPAT KONSOLIDASI : Rapat konsolidasi di SMA Negeri 1 Pejagoan dihadiri pihak sekolah, Komite dan Paguyuban Siswa Kelas X, XI, XII. IMAM/EKSPRES Kemelut Kasus Pencabulan KEBUMEN-Dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum Guru SMA Negeri 1 Pejagoan (Smanja) berinisial RF ditindak lanjuti dengan rapat konsolidasi antara Komite dan pihak sekolah, Jumat (27/7). Bukan hanya pencabulan dalam rapat juga terungkap jika RF kerap memperdaya siswa dengan ancaman foto telanjang dan mistis. Pada rapat yang dilaksanakan di salah satu ruang kelas tersebut dipimpin oleh Kepala SMA Negeri 1 Pejagoan Sunarto SPd MPd dan Ketua Komiten H Zubair Syamsu SSos. Pada kesemapatan tersebut salah satu Guru Smanja menyampaikan jika pada tahun 2005 silam, RF ternyata telah memperdaya siswi Smanja. Bukan hanya bertindak cabul RF bahkan diduga telah melakukan hubungan badan. Di depan semua peserta rapat, salah satu guru yang meminta untuk tidak disebut nama mengatakann, RF telah memaksa siswi Smanja untuk melayani nafsu bejatnya. Jika tidak dituruti atau bahkan melaporkan kejadian tersebut, maka RF mengancam akan menyebar foto siswa terkait yang dalam kondisi telanjang. “Informasi yang kami terima siswa tersebut telah melayani sebanyak 5 kali di salah satu hotel di wilayah Kabupaten Kebumen,” ujarnya. Lantas dari mana RF mendapatkan foto siswi-siswi Smanja dalam posisi telanjang?. Ternyata hal itu dilaksanakan saat siswi-siswi sedang berganti baju, saat pelajaran renang. Jadi sebelum atau sesudah pelajaran renang, tentunya para siswa akan berganti baju renang di ruang ganti. Kesempatan itu digunakan oleh FR untuk mengambil foto siswi-siswi yang menjadi bidikannya. “Kami mendapat informasi jika foto-foto siswi yang dalam kondisi telanjang tidak hanya satu orang, melainkan ada beberapa. Dengan demikian ada dugaan jika banyak siswi yang telah diperdaya dengan modus yang sama,” paparnya. Selain mengancam siswa dengan foto-foto telanjang, RF ternyata juga mempunyai trik lain yakni mengaku mempunyai indra ke enam. Ini dilaksanakan dengan memegang dahi siswi yang dimaksud. Setelah itu RF menyampaikan jika pihaknya dapat mengetahui siswi-siswi siapa yang telah melaporkan perbuatannya kepada kepada jajaran guru. Dengan dalih dapat membaca pikiran, maka RF pun mengancam tidak akan meluluskan siswa yang berani melapor. “Beberapa siswa telah menyampaikan keluhannya ke guru sembari menangis. Bahkan kami yakin para korban tidak menyampaikan hal tersebut kepada orang tua masing-masing,” jelasnya. Dalam rapat juga terungkap jika berdasarkan pada laporan siswa RF ternyata kerap memberi contoh yang kurang baik. Hal ini dilaksanakan dengan menonjokan kemesraan hubungan RF dengan salah satu guru di sekolah tersebut. Padahal semua tahu, jika guru yang dimaksud bukan merupakan istri RF. “Dari banyaknya laporan siswa maupun alumni maka Komite SMA Negeri 1 Pejagoan menegaskan jika RF harus dimutasi yakni dipindah tugaskan dan tidak lagi mengajar di SMA Negeri 1 Pejagoan,” tegas Zubair Syamsu. Rapat konsolidasi akhirnya memutuskan beberapa hal yakni komite meminta agar RF dipindah tugaskan. Komite juga mendukung penuh upaya Kepala SMA Negeri 1 Pejagoan untuk menyampaikan hal tersebut kepada Balai Pengendali Pendidikan Menengah Dan Khusus (BP2MK) Wilayah IV Magelang. Jika tidak ada tanggapan maka laporan akan langsung disampaikan Kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Sebelumnya telah diberitakan terjadi dugaan tindakan pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru SMA Negeri 1 Pejagoan kepada enam orang siswi. Akibatnya 53 guru SMA Negeri 1 Pejagoan (Smanja) mengajukan mosi tidak percaya kepada BP2MK Wilayah IV Magelang. Itu dilaksanakan agar guru berinisial RF dipindah tugaskan. Bukan hanya kepada BP2MK, para oknum guru Smanja juga menyampaikan perihal tersebut kepada Ketua Komite Smanja H Zubair Syamsu SSos. Pihak komite juga berharap agar oknum guru tersebut dipindah tugaskan. Pasalnya apa yang telah dilakukan tidak lagi mencerminkan sebagai seorang pendidik. (mam)

Tags :
Kategori :

Terkait