Berawal dari Facebook, Anggota Mencapai 17 Ribu
Beri Informasi Pertunjukan Ebeg
Berawal dari hobi nonton kesenian ebeg atau ada yang menyebut kuda kepang dan kuda lumping, ternyata bisa menjadi sebuah komunitas. Berawal dari komunitas di Facebook, akhirnya muncul Communitas Pecinta Ebeg (COPE’E) Purbalingga.
UNIK : Pegiat Communitas Pecinta Ebeg (COPE’E) Purbalingga. (AMARULLAH NURCAHYO/RADARMAS)
AMARULLAH NURCAHYO, Purbalingga
Setiap ada pertunjukan ebeg, bisa dipastikan ada anggota COPE'E. Seperti saat ada ebeg di Kecamatan Karanganyar. Komunitas ini gampang dikenali, karena selalu memakai kaos seragam.
Yoga Tri Cahyono, salah satu pegiat komunitas itu mengaku, komunitas dibentuk beberapa tahun lalu. Awalnya hanya di Facebook sebagai media informasi adanya tontonan ebeg di seluruh wilayah Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas dan sekitarnya. Namun komunitas ini semakin besar dan di keanggotaan terbaru sudah mencapai hampir 17 ribu orang.
Semua usia dan profesi masuk menjadi anggota dan aktif mengikuti aktivitas komunitas. Misalnya saat ada kabar pertunjukan ebeg di luar daerah, maka mereka akan menonton dan memberitahukan kepada anggota dan pecinta ebeg lainnya.
“Meski tak semua akan datang, namun setidaknya ketika di luar kota akan tetap ada anggota dari komunitas kami. Semua dilakukan untuk menambah referensi ketrampilan dan gaya ebeg di berbagai wilayah se eks Karesidenan Banyumas,” ungkapnya.
Dia dan teman-temannya yang juga biasa menjadi wayang ebeg merasa ketertiban, keindahan dan keamanan pertunjukan ebeg tidak dinodai dengan adanya keributan antar kelompok. Untuk itu, melalui komunitas dilakukan pemahaman dan pendekatan personal agar saling menjaga kelompok ebeg masing-masing.
Dikatakan Yoga, anggota komunitas terdiri dari berbagai kalangan dan profesi. Seperti dalang, anggota DPRD, ormas, LSM, pejabat pemkab dan dari berbagai komunitas lain. “Ketika kopi darat, maka semua evaluasi soal pertunjukan ebeg akan dibahas. Saat diskusi di grup juga ada evaluasi kreativitas suatu kelompok atau grup ebeg yang bisa ditiru tariannya agar lebih baik ditonton,” kata Yoga.
Yoga dan anggota COPE'E lainnya berharap, kesenian ebeg tidak punah karena sulit regenerasi. "Melalui komunitas ini diharapkan para pemain ebeg semakin optimis untuk nguri-uri seni ebeg sampai kapanpun," tuturnya. (*/sus)