BUAT BEDUG : Perajin bedung menggarap pesanan bedug di workshopnya, Desa Keniten. Kelonggaran aturan ikut mendongkrak kenaikan pesanan bedug. (DIMAS PRABOWO/RADARMAS)
PURWOKERTO - Kasus covid-19 mulai melandai. Hal itu berimbas pada permintaan bedug di Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng.
Seperti yang dialami Taufik Amin, perajin bedug asal Desa Keniten. Menurutnya, permintaan bedug meningkat dibanding saat pengetatan PPKM beberapa waktu lalu.
"Saat ini permintaan bedug sudah mulai meningkat. Kurang lebih sekitar 75 persen bila dibandingkan saat masih ada pengetatan PPKM,'' kata dia.
Dia menjelaskan, pada tahun 2020 lalu saat covid-19 baru saja terjadi merupakan yang terparah. Bila ada pesanan, sangat sedikit.
"Tahun 2021 sudah mulai ada pergerakan permintaan. Sekarang permintaannya sudah lumayan,'' ujarnya.
Dia menambahkan, permintaan bedug hasil karyanya berasal dari beragam daerah. Seperti Banyumas, Bumiayu, Jakarta, Yogyakarta, dan lain sebagainya.
Tak hanya di wilayah Jawa saja, kerajinan bedug yang dia buat juga sudah menembus luar Jawa. ''Kalau untuk permintaan dari luar Jawa mulai dari Aceh, Lampung, Kalimantan hingga Ternate,'' kata dia.
Dikatakan, bedug yang diproduksi memiliki beragam ukuran. Mulai dari yang kecil dengam diameternya sekitar 40 cm, sedangkan yang berukuran besar diameternya sekitar 120 cm.
Kini ada lima karyawannya yang membantunya memproduksi bedug. Satu bedugnya, yang berukuran besar, lama waktu produksi bisa
https://radarbanyumas.co.id/alhamdulillah-berkah-bedug-semakin-terasa-oleh-perajin-ini-fotonya/
Dalam proses produksi, selama ini dia dibantu lima orang karyawan. Untuk proses produksinya, bedug yang berukuran besar biasanya diselesaikan dalam waktu dua pekan. (mhd)