KOLABORASI: Atraksi Barongsai berpadu dengan penari Lengger serta penari berpakaian khas Tionghoa, menari diiringi musik calung, Sabtu malam (20/11). DIMAS PRABOWO/RADARMAS
BANYUMAS - Kesenian lengger memiliki sejarah panjang dalam catatan tertulis, ditemukan pada Serat Centhini dan sumber-sumber literasi kuno lainnya. Lengger yang merupakan ekspresi budaya, sangat penting bagi Kabupaten Banyumas.
Melalui daring, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid membuka pementasan Metamorfosa Lengger, yang digelar oleh Yayasan Rumah Lengger di SMK Negeri 3 Banyumas, Sabtu (20/11).
Dia mengemukakan pendokumentasian seni tidak hanya berupa foto dan video. Melalui ide segar, seperti pementasan yang menggambarkan transformasi seni, akan menjadi sarana yang sangat menarik.
Menurutnya, ingatan kolektif dalam bentuk pementasan bisa menjadi alternatif dokumentasi seni. Pendokumentasian tidak hanya pada foto, rekaman video, data-data yang tersedia dihadirkan secara kreatif melalui kegiatan kolaborasi.
"Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Yayasan Rumah Lengger dan seniman-seniman yang terlibat dalam Metamorfosa Lengger," katanya.
Apresiasi juga diberikan Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, kepada para seniman yang menggelar pementasan secara terbatas dan daring.
"Ini merupakan bukti bahwa pelaku seni, bisa beradaptasi dengan kondisi pandemi yang belum usai," katanya.
Sadewo mengatakan, Lengger Banyumas sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang dilestarikan dan dikembangkan agar menjadi kebanggaan masyarakat.
Pagelaran Metamorfosa Lengger, memadukan lintas disiplin seni. Pentas kolaboratif dalam program fasilitasi bidang kebudayaan, menampilkan kisah perjalanan panjang proses pendokumentasian seni dan riset yang menandai kelahiran satu tahun Rumah Lengger.
Pertunjukan ini mengangkat empat bentuk kesenian yang mencakup koreografi tari, film, musik tradisi dan seni rupa. Untuk tari, koreografinya mengeksplorasi Lengger Barangan, Lengger Sintren, dan Calengsai (Calung Lengger Barongsai)
Menurut Rianto, produser sekaligus koreografer tari Metamorfosa Lengger, pementasan tidak sekadar memadukan unsur budaya Jawa dan Tionghoa.
"Tapi juga berkolaborasi dengan pemutaran film dokumenter dan musik tradisi. Sedangkan seni rupa terintegrasi sebagai bagian dari instalasi panggung pementasan dan sarana pertunjukan tari," terang Rianto.
Film dokumenter diputar sebagai pengantar cerita, sebelum penonton menyaksikan koreografi tarian lengger diatas panggung. Tiga film bercerita tentang perjalanan kesenian lengger tradisional yang manggung berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya untuk mengamen.
https://radarbanyumas.co.id/ni-sayang-ayu-setiani-dalang-wayang-kancil-awalnya-karena-penasaran-dengan-tokoh-tokoh-pewayangan/
Kesenian lengger berpadu dengan sintren, hingga sebelum pementasan terakhir. Film dokumenter tentang kelahiran seni Calengsai, yang ide awalnya dibuat oleh mantan Bupati Banyumas, Marjoko.
Tampilan tata panggung yang apik dan dukungan tata lampu yang menawan menambah greget cerita perubahan kesenian lengger dari masa ke masa secara ringan dan menarik.
Salah satu penonton, Saputra Riza mengatakan, pementasan kolaborasi harus sering diselenggarakan baik daring ataupun luring. "Agar masyarakat tahu bahwa kesenian tradisional tidak membosankan apabila dikemas dengan menarik," katanya. (*/dim)