ECOBRIK: Warga mengisi botol dengan cacahan sampah plastik. FIJRI/RADARMAS
BANYUMAS - Enam bulan berjalan warga di Kampung Nopia Desa Pekunden Kecamatan Banyumas disibukan pembuatan ecobrik. Warga sudah menghasilkan lebih dari seribu botol. Di tengah upaya untuk mengelola sampah plastik. Dan terbukti efektif menyerap sampah anorganik rumah tangga. Muncul kekhawatiran di masa mendatang.
https://radarbanyumas.co.id/ecoton-bikin-museum-berbahan-3-544-botol-plastik-bekas-ingatkan-masyarakat-bahaya-sampah-plastik/
"Ada kepikiran, nanti kalau misalnya botol yang berisi sampah rusak. Bagaimana?" ujar Mangun Handoyo, Jumat (24/9).
Ada tiga titik ecobrik berupa gapura di Kampung Nopia. Bentuk ketiganya berbeda yakni bintang, love dan U terbalik. Itulah yang dikhawatirkan cepat mengalami kerusakan.
"Ecobrik kehujanan dan kepanasan. Apalagi nanti kalau musim kemarau, botol-botol kepanasan terus," ujar Mangun.
Kondisi tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan lain. Diantaranya, tentang usia ecobrik mampu bertahan. Selain, adakah cara untuk memperpanjang usia botol yang berada di luar ruangan atau ruang terbuka.
Kampung Nopia masih memprogramkan untuk pembuatan ecobrik. Disebut Turinah, sampah plastik yang dihasilkan oleh satu rumah tangga dalam sehari masih sangat kurang untuk mengisi satu botol ukuran 600 ml.
Sehingga, metode ecobrik diakuinya dapat menjadi solusi penanganan sampah plastik dan pelestarian lingkungan. Sebab, satu botol bisa menampung satu dus ukuran sedang sampah plastik yang sudah dicacah.
Rencananya, Kampung Nopia dalam waktu dekat membangun pagar di area base came. Pagar berbahan ecobrik. (fij)