Ilustrasi
PURWOKERTO - Akhir-akhir ini angka penambahan kasus covid meroket. Pun pada tingkat kematiannya. Mereka yang tengah melaksanakan isolasi mandiri (isoman), mengaku jadi galau saat mendengar ada kabar lelayu yang diumumkan dari alat pengeras suara tempat beribadah.
https://radarbanyumas.co.id/guyub-bantu-warga-yang-isoman-bantuan-sosial-gunakan-uang-jimpitan-ronda/
Salah satunya W Mukti (24) warga Kalibagor. Ia kerap kepikiran jika ada berita lelayu yang mampir entah itu dari corong masjid maupun via pesan singkat WA.
"Saat saya isoman itu jadi menurunkan imun. Jadi membuat kepikiran," kata dia, kemarin.
Terkadang, Mukti memilih untuk tak mengetahuinya terlebih dahulu. Tak kepo soal apa yang terjadi. Apalagi hampir tiap hari ada kabar tentang meninggalnya seseorang.
"Baru ketika saya sudah negatif, saya mencari tahu, meninggal karena apa," ujarnya.
Tak jauh beda, Putra (25) warga Purwokerto. Dikawasan Grendeng, dia nyaris tiap hari mendengat berita lelayu diumumkan lewat corong masjid atau mushala.
https://radarbanyumas.co.id/ratusan-peti-mati-diterima-pemkab-banyumas-bantuan-dari-berbagai-organisasi-pengusaha-dan-masyarakat/
"Itu kadang jadi membuat takut," ujarnya.
Sebab dalam pengumuman tersebut tak disebutkan karena apa.
"Sebetulnya lebih enak kalau misal disebutkan misal A meninggal akan dimakamkan dengan protokol kesehatan. Atau si A akan dimakamkan tidak dengan protokol kesehatan," kata dia.
Sementara itu, Ketua MUI Banyumas Drs KH Taefur Arofat MPd I mengatakan soal aturan pengumuman pada toa atau pengeras suara di masjid maupun mushala itu tidak ada aturan dari pusat.
"Kalau untuk itu belum ada dari Pusat maupun Provinsi. Selama ini kaitannya bagaimana pemulasarannya. Belum sampai pada tingkat seperti itu, tidak ada ketentuan khusus soal itu," ujarnya. Itu sangat tergantung pada kebijakan masing-masing wilayahnya.
Terkait soal pengumuman 'lelayu' yang membuat cemas warga saat sedang Isoman, Wakil Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono akan mendiskusikannya dengan jajaran Forkompinda.
"Nanti kita diskusikan," katanya.
Menurutnya, untuk pengumuman lelayu, itu merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat. Dan ia lihat, itu sudah jadi semacam budaya.
"Itu adat kebiasaan. Jika ada lelayu, itu respon setiap masyarakat berbeda-beda," ucapnya.
Bagi masyarakat yang tengah menjalani Isoman, ia minta untuk tetap tenang. Yang terpenting adalah fokus pada pemulihan. Konsumsi vitamin dan makanan bergizi, serta hindari stress jadi kiat agar cepat pulih.
"Untuk urusan nyawa, sudah diatur oleh yang di atas," tuturnya.
Lebih jauh, pandemi di Banyumas memang belum reda. Pemkab saat ini terus berupaya melakukan penanganan.
"Mohon masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan. Karena itu cara paling mudah, menangkal pandemi," pungkasnya. (aam/mhd)