Hari Jadi Ke-81, Jawa Tengah Bertabur Infrastruktur

Selasa 18-08-2026,20:04 WIB
Reporter : Humas Pemprov Jateng
Editor : Laily Media Yuliana

“Terima kasih pad Pak Gubernur mengalokasikan pembangunan jalan di Wonogiri. Setelah jadi, bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteran warga,” kata Kepala DPUPR Kabupaten Wonogiri, Prihadi Ariyanto.

Di samping itu, penanganan jalan daerah juga menjadi prioritas. Dalam hal ini juga melibatkan kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan pemerintah pusat.

Tercatat pada tahun 2025, Inpres Jalan Daerah (IJD) telah mengintervensi hingga tuntas 30 paket pekerjaan penanganan jalan dengan total sepanjang 132,62 kilometer. Puluhan paket tersebut tersebar di 19 kabupaten/kota. 

Bahkan pada 2026 ini, Ahmad Luthfi  bersama bupati dan walikota sudah mengusulkan ke pemeintah pusat untuk penanganan jalan sepanjang 36,30 kliometer dan penanganan jembatan sepanjang 249,70 meter.

Menurut  Luthfi, pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru serta pariwisata di Jawa Tengah.

Infrastruktur yang baik akan memperlancar mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa antardaerah. Membangun infrastruktur jalan juga untuk keselamatan masyarakat.

“Jalan ini kita banguan bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.

Perihal infrastruktur tentu saja tidak hanya tentang jalan dan jembatan. Sebagai provinsi yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional, infrastruktur penunjang pertanian juga tidak kalah penting. Misalnya terkait embung dan sistem pengairan lahan pertanian. 

Berdasarkan data, sepanjang tahun 2025 terdapat delapan pembangunan embung baru dan dua revitalisasi embung, sedangkan hingga awal tahun 2026, Gubernur Ahmad Luthfi sudah meresmikan hingga 12 embung yang tersebar di berbagai daerah.

Salah satu contohnya adalah Embung Kerangjati di Blora, pembangunan embung tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh petani dan lahan pertanian dengan luas sekiyar 40 hektare. Masa tanam padi sebelum ada embung biasanya satu kali karena mengandalkan tadah hujan. Setelah embung jadi masa tanam bisa lebih dari dua kali dalam setahun.

“Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalua coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali,” kata perwakilan kelompok tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono, saat peresmian embung pada 2 Maret 2026 lalu.

Gubernur Ahmad Luthfi, mengatakan pembangunan embung merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan air baku serta memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan. 

Ia berharap, embung-embung yang telah dibangun dan diresmikan tersebut dapat dikelola dan dirawat bersama oleh Masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kita bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah,” katanya saat meresmikan Embung Plosorejo di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.

Tags :
Kategori :

Terkait