Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menyetorkan satu karung penuh sampah plastik ke e-warung saat penyaluran bantuan sosial (FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS)
BANYUMAS - Tumpukan sampah plastik di halaman rumah Sarijan Andrianto mengisahkan asa dari keluarga penerima manfaat bantuan sosial dari pemerintah. Keluarga penerima manfaat yang notabene sebagai masyarakat miskin ingin berbagi melalui sampah. Pada Maret 2020, adalah bulan ke empat dari antusiasme keluarga penerima manfaat di Desa Banjarpanepen Kecamatan Sumpiuh untuk menyetorkan sampah.
Sarijan menuturkan semangat mereka untuk mengumpulkan sampah layak diapresiasi. Sarijan adalah salah satu pemilik dari tiga e-warung Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang kini berubah nama menjadi Program Sembako di desanya. Dia menyatakan langsung bersedia ketika diminta kerja sama untuk mengelola sampah keluarga penerima manfaat.
"Setiap ada penyaluran bantuan sosial di e-warung. Keluarga penerima manfaat membawa sampah. Awalnya hanya yang menerima Program Keluarga Harapan atau PKH. Selanjutnya, penerima Program Sembako juga ikut," tutur Sarijan.
Tidak hanya menjadi lokasi titik tampung sampah. Sarijan juga berperan untuk getok tular adanya misi "sampah dari keluarga penerima manfaat untuk kegiatan sosial".
Wilayah desa berupa perbukitan dengan pola sebaran penduduk terpusat menjadikan sosialisasi dari mulut ke mulut relatif efektif. Terbukti dari volume sampah yang terkumpul. Pada mulanya sampah tidak sampai penuh satu kendaraan roda tiga. Selanjutnya, sampah sampai bertumpuk-tumpuk ketika dimuat.
Upaya mengelola sampah yang masih bernilai ekonomis itu tidak lepas dari usaha Arbian Apriandani. Koordinator PKH Kecamatan Sumpiuh sekaligus pendamping untuk Desa Banjarpanepen itu menggagas untuk memanfaatkan sampah. Hal yang terkesan sepele namun ada manfaat besar di baliknya.
"Dari penjualan sampah keluarga penerima manfaat. Uang nantinya kembali ke mereka. Bisa dimusyawarahkan lagi untuk pemanfaatannya. Sementara waktu, mereka merencanakan untuk kegiatan sosial. Misalnya sunatan masal atau santunan," terang Arbian.
Dalam penyetoran sampah pendamping tidak mewajibkan. Namun, lebih pada memupuk tingkat kesadaran dan kepedulian keluarga penerima manfaat. Sehingga, diharapkan ke depan semua berpatisipasi.
Selang beberapa hari dari waktu penyaluran bantuan sosial pemerintah usai. Arbian dibantu Sarijan memuat sampah yang terkumpul untuk disetor ke pengepul. Dikatakan Bian, sapaannya, pengepul bersedia menampung sebanyak mungkin sampah dari keluarga penerima manfaat.
Tiga e-warung yang ada di desa menjadi titik kumpul sampah. Menggandeng e-warung ternyata pilihan tepat untuk mengelola sampah. Sehingga, warga tidak segan dalam menyetorkan sampahnya. Kebanyakan berupa botol dan gelas bekas minuman kemasan dan peralatan rumah tangga tidak terpakai.
Sementara itu, Sumarno, salah satu keluarga penerima manfaat asal RT 2 RW 4 menuturkan sejak dulu memang telah terbiasa mengumpulkan sampah plastik. Ketika telah banyak, dijual ke tukang rongsong. Sejak ada setor sampah ketika pendistribusian bantuan sosial. Sumarno memilih menyumbangkan sampahnya.
"Setor sampah ini untuk kebersamaan diantara keluarga penerima manfaat. Teman-teman banyak yang sudah mengumpulkan ke rumah Pak Sarijan, jadi ikut juga," ujar Sumarno.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kampanye pengelolaan sampah pada sumbernya yang digaungkan pemerintah. Lalu, wadah bekas yang berpotensi sebagai penampung air hujan dapat diminimalisasi. Sehingga, perkembangbiakan nyamuk demam berdarah dapat ditekan.