PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Tahun 2025 menjadi periode penting dalam penguatan sektor jasa keuangan di daerah.
Seiring meningkatnya akses dan aktivitas keuangan masyarakat, OJK Purwokerto mengawal pertumbuhan tersebut melalui penguatan literasi keuangan, pengawasan lembaga jasa keuangan yang konsisten, serta upaya peningkatan pelindungan konsumen.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan sektor jasa keuangan di wilayah Banyumas Raya tumbuh secara sehat, aman, dan inklusif.
Perkembangan sektor jasa keuangan di eks Karesidenan Banyumas Raya sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang positif, sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan pemanfaatan layanan keuangan oleh masyarakat.
BACA JUGA:KOJK Purwokerto Gelar Rakor Satgas Pasti, Lindungi Masyarakat dari Aktivitas Keuangan Ilegal
Pertumbuhan kinerja perbankan, industri keuangan nonbank, serta meningkatnya minat masyarakat terhadap produk investasi mencerminkan semakin luasnya akses keuangan di daerah.
Hingga akhir Desember 2025, kinerja perbankan—baik bank umum maupun BPR/S—dari sisi aset dan dana pihak ketiga (DPK) di wilayah eks Karesidenan Banyumas mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 3,67% (yoy), dan 4,31% (yoy).
Sementara itu, kredit sedikit mengalami kontraksi sebesar -0,04% (yoy). Jika dilihat berdasarkan jenis bank, kinerja bank umum mengalami pertumbuhan aset dan DPK yaitu sebesar 2,82% (yoy) dan 5,91% (yoy). Sementara itu kredit juga sedikit mengalami kontraksi sebesar -0,03% (yoy).
Kinerja BPR/S di wilayah kerja Kantor OJK Purwokerto per Desember 2025 menunjukkan pertumbuhan pada DPK sebesar 0,47%, sementara aset dan kredit sedikit mengalami kontraksi masing-masing sebesar -1,95% (yoy) dan -2,73% (yoy), dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang masih relatif tinggi sebesar 21,97%.
BACA JUGA:OJK Purwokerto: UMKM Jadi Sebaran Utama Penyaluran Kredit Hingga 3,3 T
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh proses normalisasi kredit restrukturisasi Covid-19, seiring dengan penyesuaian kualitas portofolio kredit stimulus yang berdasarkan hasil penilaian dinilai tidak dapat bertahan.
Pada sektor pasar modal, jumlah investor saham dan reksadana hingga Desember 2025 mengalami peningkatan signifikan, masing-masing sebesar 38,20% (yoy) untuk investor saham dan 35,87% (yoy) untuk investor reksadana.
Peningkatan jumlah investor ini turut diikuti oleh lonjakan nilai transaksi sebesar Rp2.073 miliar atau tumbuh 98,38% (yoy), yang didominasi oleh investor berusia muda pada rentang usia 21 hingga 30 tahun.
Pada sektor Industri Keuangan Non-Bank, kinerja Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 10,41%, kredit sebesar 18,34%, dan aset 5,72%.
Sementara itu, industri perusahaan pembiayaan menunjukkan peningkatan penyaluran pembiayaan dengan total pembiayaan mencapai Rp4.138 miliar pada Desember 2025, dengan porsi terbesar disalurkan ke sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi, serta perawatan mobil dan sepeda motor sebesar 21%.