KEBUMEN - Berawal dari coba-coba, mantan pekerja migran, Paryatun (27) kini sukses kelola usaha kue kering dan selalu ramai pesanan menjelang momen lebaran.
Di tempat produksi yang berada di rumahnya wilayah Dusun Putat Desa Tanggulangin Kecamatan Klirong, sejumlah pekerja sibuk membuat kue kering guna memenuhi permintaan konsumen untuk momen lebaran tahun ini.
Ibu satu anak itu memulai usaha kue kering yang diberi nama Arya Cookies sejak 2020 lalu dan bertahan hingga saat ini. Sebelum memulai usaha itu, Paryatun belajar secara otodidak dari media sosial sepulang dari bekerja sebagai migran di Malaysia.
Perempuan itu menceritakan, begitu lulus sekolah langsung bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2017. Akan tetapi dia kemudian dipulangkan ke tanah air berselang hampir 2 tahun karena pabrik tempatnya bekerja tutup.
BACA JUGA:Sambaran Petir di Klirong Tewaskan Sapi dan Rusak Instalasi Listrik Rumah Warga
BACA JUGA:Tebing Longsor Timpa Rumah Warga Desa Kalijaya Kebumen
"Di situlah saya mikir, putar otak bagaimana bisa punya uang. Pas itu momennya mau lebaran jadi ya coba-coba dulu. Alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang," katanya, Selasa (16/2).
Setelah belajar secara otodidak, dia memproduksi kue kering kemudian dibagikan kepada tetangga dan mendapatkan respon yang bagus. Dia lantas memutuskan untuk memproduksi kue kering dan dipasarkan secara online. Semula Paryatun membidik target pasar para pekerja migran.
Dari awalnya puluhan toples kue kering, terangnya, pemesanan dari konsumen terus meningkat seiring berjalanya waktu. Menurutnya pemesanan kue kering biasanya mengalami peningkatan menjelang lebaran. Dia menjual sekitar 9.000 toples kue kering saat momen lebaran tahun lalu.
"Tahun ini alhamdulillah sudah masuk 8.000 toples. Untuk pengiriman paling jauh ini ke Jepang," ungkapnya.
BACA JUGA:Lima Calhaj Kebumen Dipastikan Tidak Berangkat Haji
BACA JUGA:Bupati Kebumen Apresiasi Kiprah Persak di Liga 4
Dia melayani pemesanan tiga bulan sebelum lebaran dan pemesanan kue kering dari konsumen ditutup dua minggu sebelum lebaran. Ada 30 lebih varian kue kering yang diproduksinya dibantu 10 pekerja.
"Paling best seller itu nastar, kastengel, putri salju dan kue kacang," katanya.
Paryatun mengungkapkan, pemesanan kue kering biasanya lebih banyak dalam bentuk parcel atau hampers dibandingkan per toples. Kue kering yang diproduksi ditempatnya dijual dengan harga berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 45 ribu per toples.