Anak-anak menjadi fokus awal pendampingan. Ia mencoba mengembalikan tawa yang sempat hilang melalui permainan ringan dan cerita sederhana.
Namun seiring waktu, Risma menyadari trauma tidak mengenal usia. Orang dewasa pun menyimpan ketakutan yang sama dalamnya.
Sejak itu, layanan psikososial yang ia lakukan terbuka untuk semua kalangan. Siapa pun yang ingin berbagi cerita, dipersilakan datang.
Di balik wajahnya yang tenang, kelelahan kerap singgah. Namun Risma mengaku menemukan kebahagiaan ketika melihat perubahan kecil pada warga yang ia dampingi.
BACA JUGA:Pembuktian Felicia Amadea Raih Prestasi di Ajang Trail Run Nasional
Ada rasa cukup saat mata anak-anak kembali berbinar. Ada kelegaan ketika seorang ibu akhirnya berani mengungkapkan ketakutan yang lama dipendam.
Harapan Risma sederhana. Ia ingin Desa Serang pulih sepenuhnya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin warganya.
Menurutnya, pemulihan rumah, infrastruktur, dan kebutuhan dasar harus berjalan seiring dengan pemulihan mental. Bagi Risma, keduanya tak bisa dipisahkan.
“Dengan pemulihan dari berbagai aspek yang sedang diperjuangkan bersama, saya berharap masyarakat Desa Serang bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala,” katanya.
BACA JUGA:Menenun Asa dari Limbah Kapas: Jejak Estetika Benang Antih Tumanggal yang Mendunia
Di tengah puing dan lumpur, Risma memilih hadir dengan hati. Di Desa Serang, penyembuhan bukan hanya soal membangun ulang rumah, tetapi juga merawat jiwa yang sempat retak.