PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Perayaan tahun baru 2026 di Kota Purwokerto tanpa kembang api tidak membuat sepi titik-titik pusat keramaian seperti Menara Teratai dan Alun-Alun Purwokerto.
Tak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, momen malam pergantian tahun menjadi waktu panen Pedagang Kaki Lima (PKL) didukung dengan cuaca yang cerah.
Salah satu PKL, Kukuh bersyukur malam pergantian tahun baru 2026 tidak turun hujan. Bukan karena ada tidaknya larangan pesta kembang api, cuaca lebih berpengaruh pada ramainya pengunjung.
"Alhamdulillah. Cuaca cerah pembeli kopi ramai," katanya.
BACA JUGA:Malam Tahun Baru di Cilacap Tanpa Kembang Api, Diganti Doa Bersama
Kukuh mengungkapkan ada rasa khawatir akan turunnya hujan pada momen melam pergantian tahun di Purwokerto. Berjualan kopi dan mendoan di Jalan Bung Karno, omset satu malam cukup menutup pendapatan berjualan satu minggu. Disinggung nominal omset, pendapatan kotor sampai ratusan ribu rupiah tak sulit didapat sekali jualan.
"Kalau malam minggu atau hari biasa sepi. Apalagi sering hujan," terang dia.
Pengunjung Alun-Alun Purwokerto, Intan Nirmala tak terpengaruh dengan larangan pesta kembang api pada malam pergantian tahun baru 2026. Diniati jalan-jalan, cuaca yang cerah jadi faktor yang utama untuk menghabiskan waktu sekedar berkumpul dengan keluarga di luar rumah.
"Di alun-alun tidak lama. Lewat pukul 00.00 WIB langsung pulang. Agak crowded tapi tidak masalah," katanya.
BACA JUGA:One stop shopping Konsumsi untuk Tahun Baru di Hanna Meatshop
Adapun momen tahun baru 2026 dilewati masyarakat Banyumas dengan empati keprihatinan atas banyaknya bencana yang menimpa Indonesia khususnya di Sumatera. Tidak dilaksanakannya pesta kembang api besar-besaran oleh pengelola objek wisata pemerintah dan swasta menunjukkan dukungan moril pelipur lara para korban bencana. (yda)