Harga Meroket, Cabai Rawit Dipanen Muda

Jumat 19-07-2019,16:45 WIB

KUALITAS TURUN: Cabai rawit belum tua sudah dipasarkan. FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS SUMPIUH - Kualitas komoditas cabai rawit yang menurun dikeluhkan pedagang di Pasar Sumpiuh. Padahal, harga cabai rawit hampir setiap hari terus bertambah mahal. "Cabai rawit belum tua sudah dipetik. Mungkin karena mumpung sedang mahal," ujar pedagang bumbu dapur Sariyah, Kamis (18/7). Cabai rawit yang masih berwarna kekuningan dioplos dengan yang sudah tua atau memerah. Praktis, mayoritas pembeli lebih memilih cabai rawit yang merah. Sebab, dari segi rasa tentu lebih pedas. Dikatakan Sariyah, turunnya kualitas cabai rawit merugikan pedagang. Karena cabai rawit belum tua kurang diminati konsumen. Dengan demikian, dagangan menjadi tersisa dan belum tentu di hari berikutnya bakal laku terjual. "Dipasoknya sudah seperti itu dari tengkulak, campuran antara yang merah dan belum merah. Berbeda ketika cabai rawit sedang murah, semuanya merah segar, sudah tua," tutur Sariyah di lapaknya. Harga satu kilogram cabai rawit sudah tembus Rp 70 ribu di Pasar Sumpiuh. Kelangkaan stok menjadi pemicu tidak terkendalinya harga cabai rawit. Pada Kamis (11/7) lalu, harga cabai rawit masih Rp 60 ribu. Dengan demikian, dalam waktu sekitar sepekan sudah melonjak hingga Rp 10 ribu. Sariyah menuturkan terdapat kekhawatiran di tingkat pedagang dengan adanya kemarau panjang. Ketika tanaman cabai rawit semakin banyak yang mati sebagai terdampak kekeringan. Berdampak pada langkanya stok cabai rawit. Sehingga dalam beberapa waktu ke depan, harga bisa lebih mahal. (fij)

Tags :
Kategori :

Terkait