Yudhis Fajar
GM Radar Banyumas
Berdoa bersama dalam syukuran. Itu cara sederhana merayakan ulang tahun. Kami memilih merenung dan instrospeksi. Tentang jejak setahun terakhir. Alhamdulillah membaik.
Terima kasih untuk semua stake holder atas kolaborasinya. Terima kasih para pembaca koran Radar Banyumas akan kesetiaannya. Alhamdulillah juga traffick website radarbanyumas.disway.id terus naik. Sampai ratusan ribu kunjungan setiap hari.
Hidup terus berjalan. Tantangan terus berbeda di setiap masanya. Ulang tahun ke-27 Radar Banyumas ialah momentum meneguhkan apa yang menjadi pondasi. Pijakan mengarungi masa-masa mendatang. Time flies so fast. Waktu begitu terasa cepatnya berlalu. Perubahan-perubahan terus terjadi.
Termasuk pula perubahan makna tentang apa itu kebenaran yang diusung media. Tentu saja media di sini dalam arti luas. Alat apapun yang dipakai menyampaikan pesan, itu kami sebut sebagai media. Dalam sebuah kuliah umumnya. Dahlan Iskan menyebut, dulu kebenaran berdasar fakta. Saat ini, pendiri Disway Grup mengakui kebenaran yang diyakini publik seringkali berlandaskan persepsi.
Pemantiknya ialah era digital. Semua bisa membuat content dalam media sosial. Kebenaran ialah apa yang tengah viral. Perkembangan teknologi selalu menghadirkan dua sisi. Yang baik, semuanya bisa berekspresi, 'silaturahmi', atau berpromosi. Yang buruk, tak sedikit isi media sosial yang ternyata masuk kategori hoaks.
Parahnya, tidak sedikit warganet yang termakan hoaks. Perjuangan literasi digital kita masih panjang untuk mencapai sukses. Merebaknya AI atau kecerdasan buatan, membuat kita harus semakin hati-hati. Dulu kita harus bergerak guna mendapat informasi. Saat ini, kaum mager pun begitu mudah memperoleh informasi. Sambil rebahan sembari scrolling Instagram, youtube, ataupun TikTok.
Terjadilah information overload. Banjir informasi. Semua berbaur sulit tersaring. Baik informasi dengan akurasi tinggi. Ataupun informasi kategori hoaks. Ironinya, masih banyak yang menelan mentah-mentah informasi kasta tersebut.
Yang lebih memprihatinkan, netizen lebih cepat berkomentar dibanding membaca. Satu contoh, kerap ada komentar : Itu terjadi di mana min?. Padahal, sudah jelas lokasi kejadian tercantum dalam judul. Dengan font yang paling besar pula. Sungguh, itu semua di luar prediksi BMKG.
Zaman viralogi. Di mana Radar Banyumas akan terus berpijak? Keinginan untuk ikut-ikutan viral terus menggoda. Tapi, viral yang seperti apa. Sebagai media informasi yang telah berumur 27 tahun, Radar Banyumas harus tetap jernih dan dewasa. Viral boleh, namun syaratnya ialah informasi yang tersaji haruslah utuh sesuai kaidah jurnalistik yang bernas. Penuh berisi dan berkualitas baik.
Apakah dengan pilihan tersebut berarti Radar Banyumas akan tersingkir dalam keramaian zaman digital yang penuh kejutan? Rasa-rasanya, Insya Allah, Radar Banyumas bukan dinousaurus yang disebut-sebut tak mampu beradaptasi hingga punah. Radar Banyumas mengikuti perkembangan zaman, tapi tidak latah. Radar Banyumas ialah brand media dengan multiplatform.
Ulang tahun ke-27 ini Radar Banyumas meneguhkan pondasinya. Cara kerja redaksi jelas berubah. Kami terus menjaga koran cetak- yang memiliki segmentasi- dan mengembangkan media digital.
Tetapi, apapun platform yang kami gunakan dasarnya ialah kejernihan prinsip jurnalisme. Kami berpegang teguh dengan beberapa hal mendasar. Etika. Akurasi. Cover both Side. Independensi. Empati. Dan juga, tidak ada niat buruk dalam pemberitaan.
Rasa-rasanya kejernihan viralogi ialah pilihan relevan untuk menjaga 'kewarasan' kami dan para pembaca sekalian. Kami kutip pengertian dari Bagus Priyantomo, ST. dalam buku Rahasia Konten Viral. Pengertian viral adalah suatu kondisi di mana suatu hal bisa menyebar luas dengan cepat seperti penyebaran sebuah virus.