KEBUMEN - Warga Desa Kedungwinangun, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, bergotong royong memasang ratusan patok bambu di sepanjang aliran Sungai Lukulo, Minggu (21/7). Langkah ini dilakukan sebagai upaya darurat mencegah longsor akibat erosi sungai yang mengancam rumah, mushola, dan makam warga.
Kepala Desa Kedungwinangun, Mohammad Baequni, mengatakan sebanyak 900 batang bambu ditancapkan di bibir Sungai Lukulo, tepatnya di Dukuh Pagak, RT 2 RW 8. Wilayah tersebut dinilai paling rawan terdampak longsor karena berada sangat dekat dengan tebing sungai.
“Jadi Desa Kedungwiangun itu berbatasan langsung dengan Sungai Lukulo, ada beberapa titik lokasi yang terdampak erosi sungai, untuk mengantisipasi longsor kita tangani dengan cara mematok dengan batang bambu,” ujar Baequni.
Bambu-bambu setinggi 10 meter tersebut ditancapkan di sepanjang tepian sungai dengan harapan dapat menahan laju erosi. Menurut Baequni, pemanfaatan bambu segar diharapkan dapat tumbuh dan menjadi penguat alami tebing sungai.
“Ini sebagai antisipasi sementara, menangulangi longsor, karena di atas ada makam desa dan beberapa rumah penduduk yang dikhawatirkan terkena erosi dan longsor,” tambahnya.
Baequni mengungkapkan, persoalan erosi Sungai Lukulo sudah berlangsung lama dan sempat diajukan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Namun hingga kini, belum ada penanganan dari pihak terkait.
“Dulu sebelum saya pernah mengajukan untuk penanganan di BBWS namun sampai saat ini belum ada tindakan apapun. Sungai Lukulo saat banjir arusnya menggerus tanah, dalam satu titik itu ada sekitar 5 perumahan, mushola dan makam yang terancam longsor, jaraknya hanya sekitar 10 meter dari tebing,” jelasnya.
Untuk mendukung kegiatan ini, Pemerintah Desa menggunakan dana desa. Bambu yang digunakan dibeli dari warga setempat, sementara proses pemasangan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat.
"Desa sempat merencanakan namun tidak bisa karena itu butuh anggaran besar, awalnya mau pondasi pakai batu semen tetapi setelah disurvei aksesnya susah, akhirnya dipatok bambu dicengkal tanah dengan karung, dengan harapan bambu bisa hidup dan tumbuh, meminimalisir erosi dan tanah hanyut. Kalau tidak ada tumbuhan gampang sekali longsor,” ungkapnya melalui sambungan telepon.
Baequni berharap pemerintah daerah bisa segera turun tangan dan mengusulkan penanganan ke pemerintah pusat atau instansi terkait. “Ya harapan kami untuk bupati bisa mencarikan solusi ini, karena sudah banyak rumah yang terancam terkena longsor,” pungkasnya. (fur)