Banner Honda

ASPIKMAS Banyumas Ubah Pola Pengembangan UMKM, 5.200 Pelaku Usaha Masuk Kelas Inkubasi Bisnis

ASPIKMAS Banyumas Ubah Pola Pengembangan UMKM, 5.200 Pelaku Usaha Masuk Kelas Inkubasi Bisnis

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono.-JUNI R/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID — Wajah UMKM di Banyumas memasuki babak baru setelah Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Banyumas (ASPIKMAS) resmi dikukuhkan di Hetero Space Purwokerto, Jumat (2/10). Di bawah kepemimpinan baru periode 2026–2031, organisasi tersebut mulai mengubah pola pengembangan usaha dengan mengedepankan literasi, ilmu bisnis, dan perhitungan yang lebih matang.

Ketua Umum ASPIKMAS periode 2026–2031, Kukuh Prasetiyo, mengatakan penguatan ekonomi kerakyatan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengalaman tanpa perencanaan. Menurutnya, pelaku UMKM membutuhkan pengetahuan dan pendampingan agar mampu mengembangkan usaha secara lebih terukur.

“Bisnis harus ditumbuhkan dengan ilmu, literasi, serta perhitungan yang matang,” ujar Kukuh dalam pidato perdananya. Pernyataan tersebut menjadi salah satu arah utama kepengurusan ASPIKMAS yang baru dikukuhkan.

Perubahan fokus itu dilakukan setelah ASPIKMAS menyelesaikan konsolidasi struktur organisasi hingga tingkat kecamatan selama enam tahun terakhir. Setelah fondasi organisasi terbentuk, perhatian kini diarahkan pada peningkatan kapasitas para pelaku usaha.

BACA JUGA:Aspikmas Kecamatan Tambak Dampingi 387 UMKM

Salah satu program yang diluncurkan adalah Kelas Inkubasi Bisnis. Program tersebut dirancang dalam kelompok kecil beranggotakan lima hingga 10 UMKM di setiap kecamatan dengan sasaran sekitar 5.200 anggota ASPIKMAS yang telah terdata.

Melalui kelompok kecil tersebut, pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan materi pelatihan, tetapi juga memiliki ruang untuk membahas persoalan usaha secara langsung. Pola itu diharapkan membuat proses belajar lebih dekat dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha di lapangan.

“Harapannya melalui kelompok-kelompok kecil ini teman-teman UMKM menemukan ruang untuk bertumbuh, saling sharing, saling mendukung,” kata Kukuh. Interaksi antarpelaku usaha tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses penguatan bisnis secara berkelanjutan.

Dalam skema tersebut, pengurus ASPIKMAS tingkat kabupaten berperan menyiapkan konsep, kurikulum, dan modul pelatihan. Sementara pengurus di tingkat kecamatan akan menjadi fasilitator sekaligus pendamping yang berhubungan langsung dengan kelompok UMKM.

Pembagian peran tersebut membuat program inkubasi tidak berhenti pada pelatihan satu arah. Para pengurus kecamatan diharapkan dapat mengikuti perkembangan usaha anggotanya sekaligus membantu mencarikan solusi ketika menghadapi persoalan bisnis.

Program tersebut mendapat sambutan dari Bupati Banyumas yang hadir memberikan arahan dalam pengukuhan ASPIKMAS. Ia mengingatkan agar organisasi tidak terjebak pada kegiatan seremoni dan formalitas tanpa menghasilkan perubahan nyata bagi pelaku usaha.

Menurut Bupati, ukuran keberhasilan program harus terlihat dari perkembangan bisnis para anggota. Karena itu, pembentukan kelas bisnis di setiap kecamatan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan usaha yang benar-benar bisa dirasakan pelaku UMKM.

Pemkab Banyumas, kata Bupati, siap mendukung pembentukan kelas bisnis hingga tingkat kecamatan. Namun, dukungan tersebut disertai catatan agar materi yang diberikan tidak sekadar bersifat teoritis, tetapi sesuai dengan kebutuhan pasar dan memiliki kejelasan akses penjualan.

“Ukuran keberhasilannya sederhana: semakin banyak UMKM Banyumas yang naik kelas, semakin luas pasarnya, semakin kuat usahanya, dan semakin banyak lapangan kerja yang tercipta,” tandas Bupati. Karena itu, penguatan kapasitas pelaku usaha harus berjalan beriringan dengan pembukaan akses pasar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: