Banner Honda

150 Arsip Hidupkan Jejak SDS, Sejarah Kereta Uap Kembali Hadir di Banyumas

150 Arsip Hidupkan Jejak SDS, Sejarah Kereta Uap Kembali Hadir di Banyumas

Pengunjung mengamati arsip berupa foto dan cetak biru stasiun dan jalur kereta api era kolonial Hindia Belanda di Banyumas. Sekitar 150 arsip tentang Serajoedal Stoomtram Maatschappij akan dipamerkan dalam Banjoemas Heritage Week 2026 yang digelar 10-13 S-DIMAS PRABOWO/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID - Lebih dari seabad setelah roda kereta uap melintasi wilayah Lembah Serayu, jejak Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) kembali dihadirkan di tengah masyarakat Banyumas melalui sekitar 150 arsip yang merekam perkembangan teknologi transportasi dan perubahan ekonomi pada masa lalu.

Arsip tersebut dipamerkan dalam Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026 yang digelar 10-13 September di Hetero Space Purwokerto, Kamis (10/9/2026), dengan mengangkat tema 130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij.

Pameran ini menjadi bagian dari upaya membuka kembali cerita tentang Kereta Uap Lembah Serayu yang mulai hadir pada 1896 dan pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan transportasi sekaligus perekonomian di Banyumas.

Kurator pameran Jatmiko Wicaksono mengatakan, koleksi yang ditampilkan merupakan hasil riset panjang sejak 2009, dengan arsip yang dikumpulkan tidak hanya berupa foto, tetapi juga gambar teknik, surat-surat, serta berbagai dokumentasi autentik mengenai SDS.

BACA JUGA:Kebakaran Lahan Dekat Rel Ganggu Perjalanan Kereta di Cilacap

"Ini puncak dari riset sejak tahun 2009 dan berhasil mengumpulkan sekitar 150 arsip, gambar, foto, surat-surat dan dokumentasi yang akan dihadirkan dalam pameran," kata Jatmiko, Selasa (8/9).

Menurut dia, keberadaan SDS pada masanya menunjukkan Banyumas pernah mengalami percepatan teknologi dan transportasi yang cukup besar. Jalur tersebut tidak hanya menjadi sarana perjalanan menggunakan kereta, tetapi juga berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kehadiran Kereta Uap Lembah Serayu pada 1896, lanjut Jatmiko, menggambarkan bagaimana kebutuhan transportasi berkembang mengikuti dinamika zaman. SDS pada masa itu hadir sebagai solusi transportasi yang melampaui zamannya sebelum akhirnya ditinggalkan seiring perubahan zaman dan perkembangan moda transportasi.

Kisah tersebut kemudian coba dihidupkan kembali melalui BHW 2026. Pengunjung tidak hanya diajak melihat benda maupun dokumen lama, tetapi juga memahami bagaimana jalur kereta pernah berperan dalam membentuk kehidupan masyarakat dan perkembangan wilayah Banyumas.

Rangkaian kegiatan BHW 2026 dimulai Kamis (10/9) malam dengan pembukaan pada pukul 19.00 WIB. Setelah pembukaan, pengunjung disuguhi pertunjukan tari dari Yayasan Lengger Bicara Banyumas dan tur galeri bersama kurator.

Pameran arsip dapat dikunjungi setiap hari hingga 13 September. Selain pameran, panitia juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung mulai dari diskusi, lokakarya, tur, hingga jelajah sejarah.

Pada Jumat (11/9), sejumlah agenda yang digelar di antaranya Workshop #1 Rebuild 3D Bangunan Heritage Stasiun SDS, Sharing Session: Cerita dari Leiden, serta talkshow mengenai komunitas pecinta kereta api.

Kemudian pada Sabtu (12/9), pengunjung dapat mengikuti Jelajah Edisi SDS Land, workshop kepenulisan reportase, History Creators Meet-Up 2026, serta talkshow mengenai warisan kereta api kolonial di daerah.

Rangkaian kegiatan BHW 2026 ditutup pada Minggu (13/9). Agenda penutupan diisi Playdate Hompimpaa "Dolanan Sepur", workshop Vintage Travel Journaling, serta kegiatan Play, Craft & Explore History.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: