Banner v.2

Bupati Banyumas Buka Workshop Tradisi Petungan Jawa, Warisan Leluhur Dikenalkan kepada Generasi Muda

Bupati Banyumas Buka Workshop Tradisi Petungan Jawa, Warisan Leluhur Dikenalkan kepada Generasi Muda

SAMBUTAN. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, saat membuka workshop tradisi petungan Jawa. -JUNI R/RADARMAS-

PURWOKERTO, RADARBANYUMAS.CO.ID – Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono membuka Workshop Tradisi Petungan Jawa: dari Kelahiran sampai Kematian di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (9/7). Kegiatan tersebut menjadi upaya melestarikan pengetahuan tradisional sekaligus mengenalkan filosofi petungan Jawa kepada generasi muda.

Sadewo mengatakan petungan Jawa tidak sekadar berisi hitung-hitungan dalam menentukan hari baik. Menurutnya, tradisi tersebut menyimpan nilai, filosofi, dan cara masyarakat Jawa terdahulu memaknai perjalanan hidup manusia.

"Saya berharap forum seperti ini bisa menjadi tempat untuk saling belajar. Bukan hanya bagi peserta yang hadir hari ini, tetapi juga bagi generasi muda, agar mereka mengenal dan memahami berbagai pengetahuan yang telah diwariskan oleh para leluhur," kata dia.

Ia menjelaskan, petungan Jawa merupakan sistem perhitungan berbasis kalender tradisional yang hingga kini masih menjadi pedoman sebagian masyarakat Jawa. Sistem tersebut digunakan untuk menentukan hari baik, waktu membeli sesuatu, hingga melihat kecocokan jodoh sebelum pernikahan.

BACA JUGA:Meriah! Tradisi Grebek Sura di Banjarnegara, Warga Rebutan Gunungan Demi Berkah

Sadewo juga menegaskan Pemerintah Kabupaten Banyumas berkomitmen terus membangun daerah dengan semangat kebersamaan. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.

"Setiap elemen masyarakat memiliki peran dan kontribusi, termasuk saudara-saudara penghayat kepercayaan," ucapnya.

Dalam tradisi Jawa, petungan dilakukan dengan menjumlahkan nilai hari Masehi dan lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, yang dikenal sebagai neptu. Kombinasi angka tersebut kemudian dianalisis oleh sesepuh atau juru hitung weton untuk menyelaraskan berbagai aktivitas manusia dengan energi alam semesta.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Kawuh Rasa Sejati, Feby Lestari, mengatakan workshop ini diselenggarakan sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mengenalkan kembali pengetahuan tradisional kepada generasi muda.

"Kalau sekarang orang lebih mengenal horoskop, sebenarnya masyarakat Jawa juga memiliki sistem pengetahuan sendiri yang berkaitan dengan hari kelahiran. Ini penting untuk terus dilestarikan agar generasi muda mengenal identitas budayanya," katanya.

Menurut Feby, tradisi Jawa mengenal konsep petungan yang berkaitan dengan weton atau hari kelahiran seseorang. Petungan tersebut dipercaya menjadi pedoman dalam menentukan hari baik maupun hari yang perlu dihindari dalam berbagai aspek kehidupan.

"Ketika seseorang lahir, dalam tradisi Jawa diyakini membawa peruntungan maupun hari-hari tertentu yang menjadi bagian dari petungannya. Pengetahuan ini merupakan salah satu kearifan lokal yang perlu dipahami agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman," pungkasnya.***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: