22 Situs Purbakala Tercatat di Purbalingga, Batuan Alam Masih Perlu Diteliti
Diskusi fenomena temuan batuan purba di Taman Kota Usman Janatin, Purbalingga.-Aditya/Radarmas-
PURBALINGGA – Sedikitnya 22 situs purbakala di Purbalingga tercatat dalam penelitian arkeologi pada 1983. Sejumlah temuan batuan yang kembali diperbincangkan kini dinilai perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan jejak geologis maupun arkeologisnya.
Gunanto Eko Saputro dari komunitas Historia Purbalingga mengatakan sejumlah formasi batuan di Purbalingga memiliki bentuk yang menarik perhatian. Di antaranya Formasi Batu Igir Karem di Karangjambu yang menyerupai tembok, batuan simetris yang disebut Candi Wurung di Ponjen, serta pilar-pilar batu kekar di Talun Wringin, Panusupan.
"Batuan seperti itu bisa terbentuk alamiah, sebutannya columnar joint. Akan tetapi, banyak bukti bahwa batuan alamiah juga bisa menjadi temuan arkeologis jika digunakan manusia, seperti punden berundak, menhir, dolmen dan lainnya," jelasnya dalam diskusi fenomena temuan batuan purba di Taman Kota Usman Janatin, Jumat (25/9/2026) malam.
Menurut Gunanto, fenomena serupa dapat dilihat di Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Batuan columnar di kawasan tersebut disebutnya tersusun menjadi punden berundak menyerupai piramida.
Ia juga merujuk catatan riset Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1983 yang mencatat sejumlah situs purbakala di Purbalingga. Di antaranya Situs Tipar di Ponjen, Trondol Kidul dan Karangjoho di Limbasari yang disebut sebagai bengkel perkakas purba, serta Situs Bandingan di Karangjambu yang merupakan punden berundak.
"Ada 22 situs purbakala di Purbalingga yang ditemukan oleh penelitian arkeologi pada tahun itu," jelasnya.
Pegiat literasi Afit Susanto mengatakan berbagai temuan tersebut perlu menjadi perhatian dan ditindaklanjuti melalui penelitian. Menurutnya, penelitian dapat memperjelas apakah temuan tersebut merupakan fenomena geologis atau memiliki jejak arkeologis.
"Baik itu nantinya hanya fenomena geologis biasa ataukah ada jejak arkeologis peradaban sama-sama luar biasa," katanya.
BACA JUGA:Empat Situs Diduga Cagar Budaya di Cilacap Masuk Tahap Kajian
Pegiat seni dan budaya Slamet Santosa mengatakan kekayaan geologi dan sejarah tersebut dapat menjadi bagian dari identitas Purbalingga. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
"Selama ini kita kesulitan mencari branding atau icon Purbalingga. Saya rasa jejak kepurbaan ini cukup kuat untuk menjadi identitas kita," ujarnya.
Ia meminta pembahasan mengenai kekayaan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan langkah nyata untuk mengembangkan manfaatnya bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Kepala Desa Ponjen Romidi mengapresiasi diskusi tersebut. Ia berharap ada kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk menggali kekayaan alam, geologi, dan sejarah di desanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
