Perputaran Uang Festival Gunung Slamet #9 Ditarget Tembus Rp 3,5 Miliar, Pengunjung Diproyeksi Lebih Banyak
Festival Gunung Slamet #9 di D'Las Serang ditargetkan mampu melampaui perputaran ekonomi Rp 3,5 miliar dengan meningkatnya jumlah pengunjung dibanding tahun lalu.-Aditya/Radarmas-
PURBALINGGA – Festival Gunung Slamet (FGS) #9 di kawasan wisata D'Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, ditargetkan kembali menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Purbalingga berharap perputaran uang selama penyelenggaraan festival tahun ini mampu melampaui Rp 3,5 miliar, seiring proyeksi meningkatnya jumlah pengunjung.
Target tersebut berkaca pada pelaksanaan FGS tahun lalu yang berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung dengan nilai transaksi ekonomi mencapai Rp 3,5 miliar.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan, dampak ekonomi menjadi salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan Festival Gunung Slamet.
"Tahun ini kita berharap jumlah pengunjung lebih banyak sehingga dampak ekonominya semakin besar. Harapannya para petani sayur yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Desa Serang juga semakin sejahtera," katanya saat menghadiri hari kedua FGS #9, Sabtu (4/7).
Menurutnya, berbagai atraksi budaya, kesenian, hingga hiburan yang disuguhkan diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan datang ke Desa Serang.
"Harapannya kegiatan ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat. Air juga menjadi simbol kehidupan agar ke depan kehidupan masyarakat semakin baik," tambahnya.
Salah satu prosesi utama FGS #9 diawali dengan ritual pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip. Air tersebut dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu dan satu Kendi Pratolo yang dibawa pemuda-pemudi Desa Serang mengenakan busana adat.
Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, menjelaskan pelibatan generasi muda dalam prosesi tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya.
"Ini menjadi hikmah dari bencana alam. Mata air tetap mengalir dan lebih mudah diakses masyarakat. Penyatuan air dari seluruh lodong juga mengandung makna bahwa sekecil apa pun doa masyarakat, ketika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bersama," jelasnya.
Kirab budaya kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan 16 gunungan hasil bumi berupa buah dan sayuran dari delapan RW di Desa Serang menuju lokasi utama festival di D'Las Serang.
Setibanya di lokasi, dilakukan prosesi penyatuan air Tuk Sikopyah oleh Bupati Fahmi Muhammad Hanif, Wakil Bupati, jajaran pejabat, serta para pembawa lodong sebagai simbol bersatunya doa dan harapan masyarakat.
Rangkaian prosesi ditutup dengan doa bersama, pemotongan tumpeng, penabuhan gong pembukaan festival, serta pembagian air Tuk Sikopyah dan gunungan hasil bumi kepada masyarakat yang diyakini membawa berkah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
