Banner v.2

Krisis Timur Tengah Picu Kenaikan Aspal, Proyek Jalan Rp 28,4 Miliar di Purbalingga Dievaluasi

Krisis Timur Tengah Picu Kenaikan Aspal, Proyek Jalan Rp 28,4 Miliar di Purbalingga Dievaluasi

Perbaikan jalan Kedungwuluh–Padamara sudah mulai dikerjakan.-Aditya/Radarmas-

PURBALINGGA, RADARBANYUMAS.DISWAY.ID – Kenaikan harga minyak dunia akibat krisis di Timur Tengah mulai menekan proyek infrastruktur di Kabupaten Purbalingga.

Dari total anggaran Rp 28,44 miliar untuk 18 proyek perbaikan jalan tahun 2026, pelaksanaannya kini terancam dikaji ulang.

Kepala DPUPR Purbalingga, Drajat Uji Wahyono, menyebut kenaikan harga aspal dan solar menjadi dampak langsung konflik global tersebut.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi pembiayaan hingga volume pekerjaan proyek jalan yang telah direncanakan.

BACA JUGA:Perbaikan 18 Ruas Jalan di Purbalingga Telan Rp 28,4 Miliar, 8 Paket Sudah Lelang

“Mau dirapatkan lagi terkait harga aspal dan solar. Sebab, harganya ada kenaikan akibat krisis di Timur Tengah (perang Iran melawan Israel dan AS, red),” katanya, Rabu (8/4/2026).

Namun hingga kini, belum ada keputusan apakah kenaikan harga akan berdampak pada penambahan anggaran atau pengurangan volume pekerjaan.

DPUPR masih menunggu hasil rapat internal sebelum menentukan langkah penyesuaian proyek. Dari 18 paket pekerjaan, baru tiga proyek yang sudah memiliki pemenang lelang.

Yakni perbaikan jalan Kedungwuluh–Padamara dengan pagu Rp 1,779 miliar, Karanganyar–Karangmoncol Rp 3,463 miliar, serta Pepedan–Tegalpingen Rp 1,875 miliar.

BACA JUGA:Kebutuhan Anggaran Capai Rp400 Miliar, DPRD Purbalingga Desak Perbaikan Jalan Segera Dieksekusi Pasca Lebaran

“Paket perbaikan jalan Kedungwuluh-Padamara, sudah mulai dikerjakan oleh pemenang lelang,” lanjutnya.

Proyek Kedungwuluh–Padamara saat ini sudah memasuki tahap awal dengan penambalan jalan berlubang sebelum perbaikan utama.

Sementara dua proyek lainnya masih menunggu jaminan pelaksanaan dari rekanan. Secara keseluruhan, terdapat dua proyek dengan nilai di atas Rp 3 miliar, yakni Jalan Letjend MT Haryono sebesar Rp 3,078 miliar dan Karanganyar–Karangmoncol Rp 3,463 miliar.

Kondisi ini menunjukkan tekanan global mulai berdampak langsung pada realisasi proyek daerah yang bergantung pada material berbasis minyak. (***)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: