Banner Honda

Mural Karang Taruna Grenggeng, Kritik Anak Muda Lewat Gambar dan Sejarah

Mural Karang Taruna Grenggeng, Kritik Anak Muda Lewat Gambar dan Sejarah

Pemuda Karang Taruna Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, membuat mural di salah satu gudang kosong milik warga.--

KEBUMEN - Sekitar lima pemuda Karang Taruna Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, membuat sebuah mural di salah satu gudang kosong milik warga. Proses pengerjaan mural tersebut berlangsung kurang lebih selama satu minggu.

Mural itu memuat sejumlah gambar dan simbol, mulai dari sosok Presiden Prabowo Subianto, logo Karang Taruna, HUT ke-81 RI, Peringatan Hari Jadi Desa Grenggeng ke-102, tokoh pergerakan Tan Malaka, Monumen Tugu Kemit, hingga Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Ketua Karang Taruna Desa Grenggeng, Alek Solehudin, mengatakan mural tersebut tidak semata-mata dibuat sebagai hiasan. Ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat melalui tokoh-tokoh dan simbol yang mereka tampilkan.

“Mural para menteri Kabinet Prabowo yang sering muncul di layar berita, kinerjanya kami kembalikan kepada penonton untuk menilai,” ujar Alek.

Menurutnya, keberadaan tokoh-tokoh tersebut juga menjadi bahan perenungan bagi generasi muda. Apakah mereka yang disebut sebagai para “pahlawan hari ini” dan sedang berjuang untuk negeri sudah menjalankan perannya sesuai dengan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu?

Pertanyaan itu kemudian disandingkan dengan sosok Tan Malaka dan gagasannya tentang proses menghadapi tantangan dan perubahan.

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Apakah kita sudah sampai pada tahap itu? Atau kita masih berada di ruang kita sendiri, di bawah, dan gagap memahami kebijakan-kebijakan mereka?” kata Alek.

Mural tersebut juga membawa persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan warga Desa Grenggeng. Usia desa yang kini mencapai 102 tahun disebut menjadi momentum untuk bertanya apakah panjangnya perjalanan sejarah desa juga telah diikuti dengan kedewasaan dalam mengelola kehidupan masyarakat.

“Desa Grenggeng berusia 102 tahun, lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia. Pertanyaannya, apakah mendahului usia kemerdekaan juga diiringi dengan kedewasaan desa?” ujarnya. (mam)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: