Dari Penjual Mainan, Kini 9 Tahun Mengabdi Jadi "Orang Tua" di Panti
Slamet, sang "bapak" di sebuah panti sosial di Purwokerto Barat.-WAFI ZAKIYAH/RADARMAS-
Di balik tawa ceria dan riuh anak-anak di sebuah panti asuhan di Purwokerto Barat, ada sosok pria sederhana yang setia menemani mereka setiap hari. Slamet Marwoto, pria 50 tahun, telah mendedikasikan sembilan tahun hidupnya sebagai pengasuh di sebuah panti sosial. Padahal, dulunya ia hanyalah penjual mainan keliling yang hidup dari dagangan di pinggir jalan.
WAFI ZAKIYAH, Banyumas
KINI, Slamet menjadi "bapak" bagi puluhan anak asuh dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Dari membangunkan anak-anak sekolah, memastikan mereka makan, hingga menjadi tempat bercerita saat mereka punya masalah, semua dijalani tanpa hitungan jam kerja. Baginya, ini bukan sekadar tugas, tapi panggilan hati.
"Anaknya beda-beda latar belakang dan karakter. Jadi memang harus sabar, nggak bisa asal marah," ujarnya.
Tantangan terbesar justru datang saat ia harus menjaga anak-anak perempuan yang beranjak remaja. Di tengah pengaruh zaman yang begitu kuat, Slamet merasa tanggung jawabnya makin besar. Ia ingin memastikan mereka tetap aman dan tumbuh dengan baik.
BACA JUGA:Perpaduan Tiga Bubur yang Bikin Ketagihan, Bubur Srintil Jajanan Baru Favorit di Pasar Rengrang
Dari banyak cerita selama mengasuh, ada satu yang paling membekas. Seorang anak yatim dengan keterbatasan fisik pernah memintanya tak naik bus tertentu saat hendak pulang kampung. Ia menuruti tanpa banyak tanya. Belakangan, bus itu dikabarkan mengalami kecelakaan.
"Itu sampai sekarang saya ingat terus," katanya pelan.
Di balik pengabdian itu, kondisi panti masih jauh dari mapan. Tak ada donatur tetap. Bahkan dalam kondisi mendesak, Slamet pernah berjualan sembako untuk menutup kebutuhan harian anak-anak. Meski begitu, ia tak pernah menyesal.
"Kalau lihat mereka lulus sekolah, rasanya bangga sekali. Itu sudah cukup buat saya," ucapnya.
Dari tangan yang dulu menjajakan mainan, kini Slamet menjaga harapan dan masa depan anak-anak yang bukan darah dagingnya, namun telah ia rawat sepenuh hati. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
