Banner Honda

31 Kebakaran Lahan Terjadi di Cilacap dalam 2,5 Bulan, 62,54 Hektare Terdampak

31 Kebakaran Lahan Terjadi di Cilacap dalam 2,5 Bulan, 62,54 Hektare Terdampak

Penanganan kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Kecamatan Maos dengan melibatkan berbagai pihak.-JULIUS/RADARMAS-

CILACAP, RADARBANYUMAS.CO.ID - Sebanyak 31 kebakaran lahan terjadi di Kabupaten Cilacap selama 13 Juli hingga 30 September 2026.

Kebakaran tersebut terjadi di 14 kecamatan dan membuat sekitar 62,54 hektare lahan terdampak.

Data BPBD Cilacap mencatat, kejadian itu berdampak pada 80 kepala keluarga (KK) atau 313 orang yang tersebar di 30 desa dan kelurahan. Namun, tidak ada korban meninggal dunia maupun luka-luka.

Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan setiap laporan kebakaran langsung ditangani petugas bersama unsur terkait.

"Setiap kejadian kami tindak lanjuti dengan asesmen lokasi, pemadaman, pendinginan, suplai air, serta pemantauan dan pelaporan," katanya, Jumat (2/10/2026).

Dari 14 kecamatan tersebut, Wanareja menjadi wilayah dengan kebakaran lahan terbanyak, yakni enam kejadian. Kemudian Jeruklegi dengan empat kejadian.

Cilacap Selatan, Kroya, Kawunganten, dan Majenang masing-masing tiga kejadian. Sedangkan Cimanggu tercatat dua kejadian.

Sementara Kampung Laut, Cilacap Utara, Gandrungmangu, Cipari, Sidareja, Maos, dan Kesugihan masing-masing satu kejadian.

BACA JUGA:Lahan Seluas 1 Hektare di Kawasan Hutan Perhutani Terbakar, Penyebab Belum Diketahui

Dari 31 kejadian tersebut, 16 kasus atau sekitar 48 persen belum diketahui penyebabnya.

Kemudian 11 kejadian atau 35 persen berkaitan dengan pembakaran sampah, dan empat kejadian atau 17 persen akibat puntung rokok.

Taryo mengingatkan warga agar tidak sembarangan membakar sampah maupun membuang puntung rokok, terutama di sekitar lahan yang mudah terbakar.

"Jangan membakar sampah sembarangan dan jangan membuang puntung rokok sembarangan. Segera laporkan apabila melihat titik api atau asap," ujarnya.

Dalam penanganan kebakaran, BPBD bersama Damkar, TNI, Polri, Perhutani, relawan dan masyarakat melakukan pemadaman serta pendinginan. Petugas juga memantau lokasi setelah api padam untuk memastikan tidak muncul api kembali.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: