Banner v.2

Warga Sudagaran Banyumas Tanam Pohon saat Tradisi Sura, Sedekah Bumi Disertai Pelepasliaran Satwa

Warga Sudagaran Banyumas Tanam Pohon saat Tradisi Sura, Sedekah Bumi Disertai Pelepasliaran Satwa

Rangkaian prosesi tradisi Sura di Desa Sudagaran tidak hanya kirab gunungan hasil bumi, juga tanam pohon dan lepasliar satwa ke alam, Selasa (7/7).-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-

BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID – Tradisi sedekah bumi di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, tahun ini tampil dengan wajah baru. Warga RW 1 memanfaatkan peringatan bulan Sura bukan hanya sebagai ungkapan syukur, tetapi juga mengajak masyarakat menjaga lingkungan melalui penanaman pohon dan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya, Selasa (7/7).

Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus wujud kepedulian terhadap kelestarian alam. Melalui aksi sederhana itu, warga berharap bumi tetap asri dan menjadi tempat hidup yang nyaman bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

"Kita melestarikan budaya dan mudah-mudahan kegiatan ini juga memberdayakan," ujar Ketua RW 1 Darkam Anom Sugito.

Kegiatan dipusatkan di kawasan petilasan Eyang Driya yang menjadi lokasi sakral bagi masyarakat setempat. Pohon kelapa genjah unggul lokal dan alpukat dibagikan kepada warga untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing sebagai bagian dari gerakan penghijauan.

BACA JUGA:Bawa Misi Pertahankan Tradisi Juara, Enam Pramuka Garuda Banjarnegara Ikuti Eagle Scout Award Jawa Tengah 2026

Selain menanam pohon, warga juga melepasliarkan tiga jenis burung, yakni perkutut, crocokan, kutilang sabrang, serta ikan melem ke habitat alaminya. Aksi tersebut menjadi pesan bahwa tradisi tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjaga keseimbangan alam.

Prosesi bulan Sura juga diisi dengan pemasangan glatak atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu di petilasan Eyang Driya. Sebelum dipasang, glatak terlebih dahulu dikirab mengelilingi lingkungan bersama gunungan yang berisi aneka hasil bumi.

"Glatak menjadi simbol perlindungan agar masyarakat dijauhkan dari segala hal yang buruk," ujar Darkam, tokoh sesepuh setempat.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang diikuti seluruh warga. Suasana kebersamaan berlanjut melalui kenduri dengan menyantap hidangan yang disajikan menggunakan takir, wadah tradisional berbahan daun.

Gunungan hasil bumi menjadi puncak kemeriahan tradisi tersebut. Warga berkerumun dan berebut membawa pulang aneka sayuran, buah-buahan, hingga bumbu dapur yang diyakini membawa berkah.

Pelestarian budaya itu juga dimeriahkan penampilan musik tradisional calung dari siswa SMKN 3 Banyumas. Lantunan kidung Dhandhanggula turut menambah khidmat suasana selama prosesi berlangsung. ***

 

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: