Aboge Banyumas Timur Gelar Ruwahan, Tradisi Sadran Terus Dilestarikan di Kampung Adat Sela Kembang
Penganut Islam Aboge Banyumas timur menggelar tradisi Ruwahan di Kampung Adat Sela Kembang sebagai wujud doa, silaturahmi, dan pelestarian adat leluhur.-FIJRI RAHMAWATI/RADARMAS-
BANYUMAS, RADARBANYUMAS.CO.ID – Penganut Islam Alif Rebo Wage (Aboge) yang tersebar di wilayah Banyumas timur berkumpul di Kampung Adat Sela Kembang, Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, untuk menggelar tradisi Ruwahan, Rabu (4/2). Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian adat menjelang datangnya bulan Ramadan.
Sejak pagi, warga berdatangan dengan membawa tenong berisi ambeng dan berbagai perlengkapan selamatan. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan kampung hingga area adat tanpa menghiraukan medan tanjakan yang cukup melelahkan.
Marsinem, salah satu warga setempat, mengaku selalu berupaya mengikuti tradisi Ruwahan setiap tahunnya. Menurutnya, persiapan dilakukan sejak rumah dengan memasak ambeng dan menyiapkan isi tenong.
“Di bulan Sadran ini kita ada tradisi Ruwah. Selesai masak ambeng dan macam-macam isiannya, terus persiapan berangkat,” kata Marsinem di lokasi kegiatan. Ia menyebut kelelahan terasa hilang karena niat mengikuti tradisi leluhur.
BACA JUGA:Tradisi Resik Tetap Dilestarikan, Warga Banjarpanepen Banyumas Jaga Adat
Puluhan penganut Islam Aboge yang hadir kemudian membuka tutup tenong secara bersamaan. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya selamatan Ruwahan sebagai salah satu ritual adat menjelang Ramadan.
Prosesi kawilujengan dipimpin oleh sesepuh Aboge wilayah Banyumas timur, Tarmono. Dalam ritual tersebut, doa-doa dipanjatkan untuk para leluhur serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga yang hadir.
Tarmono menjelaskan terdapat sajian khas yang hanya muncul dalam tradisi Ruwahan, yakni pindang ayam jawa. Sajian ini memiliki makna filosofis yang mendalam bagi penganut Islam Aboge.
“Ada sajian khas, khusus hanya di acara Ruwahan ini yaitu pindang ayam jawa. Simbol meresap ke sanubari, harapannya kita semua dalam menjalani kehidupan penuh dengan ketenteraman,” ujar Tarmono.
BACA JUGA:Warga Watuagung Ciptakan Tradisi Rawat Jalan, Ukir Rasa Syukur dan Terima Kasih atas Pembangunan
Setelah prosesi kawilujengan, doa bersama kembali dipanjatkan dan diaminkan seluruh peserta. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dan terus dijaga oleh penganut Islam Aboge di wilayah Banyumas timur.
Kegiatan kemudian ditutup dengan kenduri bersama sambil bercengkerama. Tradisi Ruwahan menjadi sarana silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari.
Pindang ayam jawa yang dibawa masing-masing warga dikumpulkan bersama ingkung ayam. Sajian tersebut kemudian dibagi secara merata untuk dinikmati bersama dalam kenduri penutup. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

