Banner Honda

Kemarau Sejak Mei, Warga Kaliajir Banjarnegara Kini Bergantung pada Bantuan Air Bersih

Kemarau Sejak Mei, Warga Kaliajir Banjarnegara Kini Bergantung pada Bantuan Air Bersih

Salah satu lokasi penyaluran bantuan air bersih berada di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwonegoro, Banjarnegara.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Krisis air bersih di Banjarnegara semakin meluas. Sebanyak 40 ribu warga di 53 desa kesulitan mendapatkan air, setelah kemarau berlangsung sekitar empat bulan.

Di Desa Kaliajir, Kecamatan Purwonegoro, sejumlah sumur dan sumber mata air mengering. Warga pun mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Melihat kondisi tersebut, petani cabai dan produsen benih cabai yang tergabung dalam Ewindow Peduli menyalurkan 30 ribu liter air bersih ke desa tersebut.

Marketing Representatif Panah Merah, Hamka mengatakan, Kaliajir dipilih karena merupakan salah satu sentra penanaman cabai di Banjarnegara. Bantuan diberikan untuk membantu petani dan warga yang terdampak kekeringan.

BACA JUGA:46 Tangki dan 13 Toren Air Bersih Disalurkan untuk Warga Terdampak Kekeringan Banjarnegara

“Banyak petani kita sedang sangat membutuhkan sehingga kami hadir di tengah-tengah para petani kami. Di sini kita hadir sebagai sahabat petani dalam kondisi senang maupun duka,” kata Hamka, Jumat (2/10/2026).

Air diangkut menggunakan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti minum, memasak, dan mencuci.

Ketua Kelompok Tani Margo Rukun, Sarkam mengatakan, kekeringan telah dirasakan sejak Mei. Ketika sungai dan sumber air mengering, bantuan menjadi tumpuan warga.

“Ini sudah lama, dari bulan Mei sudah sangat kekeringan. Kebutuhan warga biasanya kalau air sungai sudah tidak ada, kering, hanya mengandalkan bantuan air bersih,” ujarnya.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Adu Sabet, Ujungan Gumelem Digelar untuk Memohon Turunnya Hujan di Tengah Musim Kemarau

Hal serupa dirasakan warga Desa Kaliajir, Jariyah. Dia mengatakan, sumber air di sekitar permukiman sudah mengering, sehingga warga bergantung pada pasokan bantuan.

“Untuk memenuhi kebutuhan air bersih kita mengandalkan bantuan, soalnya sumber-sumber di sini sudah kering. Kita hanya mengandalkan bantuan setiap harinya,” kata Jariyah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: