Dieng Jadi Proyek Percontohan GI Tourism, Wisata Baru Berbasis Produk Lokal
Direktur Merek dan Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI, Fajar Sulaeman saat melakukan kunjungan kebun kopi di Kecamatan Pagentan, Desa Babadan.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Wisatawan yang datang ke Dieng nantinya tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga diajak mengenal produk khas daerah dari sumbernya. Mulai dari mengunjungi kebun, melihat proses produksi, bertemu petani, hingga mencicipi dan membeli produk lokal.
Konsep tersebut dikembangkan melalui Geographical Indication (GI) Tourism atau pariwisata berbasis Indikasi Geografis (IG). Dieng menjadi salah satu kawasan proyek percontohan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI.
Tiga produk menjadi bagian utama, yaitu Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Carica Dieng, dan Purwaceng Dieng. Ketiganya telah memiliki perlindungan Indikasi Geografis.
Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI Kementerian Hukum RI, Fajar Sulaeman mengatakan, GI Tourism ingin membawa wisatawan lebih dekat dengan produk dan masyarakat yang menghasilkannya.
BACA JUGA:Dieng Jadi Wisata Berbasis Indikasi Geografis Pertama di Indonesia, Ada Apa Saja?
“Selama ini masyarakat hanya mengetahui produknya. Ke depan, kita ingin wisatawan bisa datang ke tempat ini, melihat prosesnya, bertemu dengan petani dan pelaku usaha, hingga membeli produk tersebut,” kata Fajar saat mengunjungi kebun kopi di Desa Babadan, Pagentan, Selasa (22/9/2026).
Menurut Fajar, konsep tersebut juga membuka peluang transaksi ekonomi langsung di sentra produksi. Kopi Arabika Pegunungan Dieng bahkan telah dipasarkan ke Australia, Singapura dan Malaysia.
“Produk kopi arabika ini sudah bisa dijual ke Australia, Singapura, Malaysia. Pembelinya sudah ada. Yang perlu kita dorong adalah bagaimana mereka bisa datang langsung ke tempat ini,” ujarnya.
Fajar menyebut, pengembangan GI Tourism dilakukan bersama sejumlah kementerian. Konsepnya juga dapat diperluas ke komoditas khas lain, seperti tembakau dan kentang merah.
BACA JUGA:Potensi Produk IG Dieng Masih Besar, dari Kopi Java Dieng hingga Carica
“Kalau ada GI Tourism, tentu akan lebih menarik bagi wisatawan karena mereka tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman,” katanya.
Pengembangan tersebut juga menuntut petani menjaga kualitas produk. Fajar mendorong Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) aktif melakukan pengawasan dan pembinaan agar reputasi produk tetap terjaga.
Ketua MPIG Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Turno mengatakan, wisata kopi menjadi peluang memperluas manfaat ekonomi perkebunan. Di Desa Babadan, perkebunan kopi mencapai sekitar 50 hektare. Sedangkan total kawasan kopi Banjarnegara sekitar 1.000 hektare di tujuh kecamatan.
“Karakteristiknya ada rasa gula Jawa, fruity, kemudian rempah-rempah. Itu yang menjadi ciri khas kopi Banjarnegara atau kopi Dieng,” ujar Turno. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
